Ekonom Bank Mandiri Sebut Ramalan IMF Cukup Realistis
JAKARTA, investor.id – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 dari sebesar 3,6% menjadi 2,8%. Di saat sama, proyeksi untuk pertumbuhan Indonesia juga dipangkas dari 5,1% menjadi 4,7%.
Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina mengatakan sebelum mencuat pengenaan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke banyak negara, ekonomi global sedang dalam fase perlambatan ekonomi. Beberapa negara baru akan melakukan pemulihan (recovery), usai terjadi pelambatan.
Tetapi, perang dagang kembali berkobar. Di mulai saat AS mengumumkan akan mengerek tarif bea masuk kepada China, Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa (UE). Kemudian semakin memanas kala Trump memberlakukan tarif resiprokal ke banyak negara, yang belakangan disambut aksi saling membalas tarif tinggi antara AS dan China. Situasi ini membuat dunia semakin dilanda ketidakpastian.
“Jadi ini dampaknya bisa lebih masif. Jadi kita lihat cukup realistis kalau IMF melihat pertumbuhan ekonomi global ini diprediksi akan melambat,” ucap Dian kepada B Universe, Kamis (24/4/2025).
Gejolak perekonomian global secara langsung dan tidak langsung tentu akan memberi dampak ke dalam negeri. Indonesia yang juga disasar tarif resiprokal AS, ini tengah melangsungkan negosiasi. Dian memandang bahwa hasil negosiasi ini nantinya dapat menjadi penentu perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025.
“Itu akan sangat tergantung dari hasil negosiasi tentunya. Tapi kalau kita lihat sepertinya akan ada pergeseran dari arus perdagangan itu sendiri. Karena Amerika sendiri sepertinya sudah bertekad untuk mengurangi defisit perdagangannya. Kita harapkan konsekuensi atau dampaknya terhadap perekonomian dunia tidak terlalu sedalam seperti yang diperkirakan sebelumnya,” tambah Dian.
Sejumlah lembaga keuangan dunia serta ekonom, termasuk Dian melihat bahwa dampak langsung peningkatan tarif AS ke Indonesia cukup minim. Dampak lebih besar akan dirasakan negara-negara tetangga, mengingat porsinya ekspor ke AS yang cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga:
Kata Pengamat soal Ramalan Suram IMFDia menerangkan, porsi ekspor Indonesia ke AS sekitar 10% dari total ekspor, serta sekitar dari 2% PDB. Dengan demikian, dampak langsung dari penerapan tarif relatif kecil bagi Indonesia. Beda dengan Thailand, Vietnam, maupun China yang mana peran ekspor menggenggam proporsi besar terhadap PDB.
“Kalau kita lihat dari proyeksinya IMF itu sekitar drop 0,5% dari proyeksi sebelumnya. Memang ini penurunan yang cukup signifikan tapi tidak terlalu dalam juga sebenarnya,” tutup Dian.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






