Kamis, 14 Mei 2026

Penerimaan Pajak Longsor 12%, Core: Karena Fondasi Masih Rapuh

Penulis : Arnoldus Kristianus
24 Apr 2025 | 21:07 WIB
BAGIKAN
Wajib pajak menunjukan aplikasi e-Faktur di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Wilayah Sumatera Utara I, Medan, Sumut. (ANTARA FOTO/Yudi Manar)
Wajib pajak menunjukan aplikasi e-Faktur di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Wilayah Sumatera Utara I, Medan, Sumut. (ANTARA FOTO/Yudi Manar)

Kontraksi penerimaan pajak tak cuma datang dari sentimen dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Menurut Yusuf, penerimaan pajak ikut tertekan sentimen pelambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik. Situasi ini memberi pukulan terhadap kinerja ekspor dan investasi, yang pada gilirannya menekan penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN).

“Konsumsi rumah tangga yang belum pulih sepenuhnya turut melemahkan basis PPN dalam negeri,” kata Yusuf.

Kondisi pertumbuhan ekonomi juga menjadi tantangan bagi penerimaan pajak. Proyeksi terbaru dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tidak akan mencapai 5%, tetapi hanya sebesar 4,7%. Ini merefleksikan potensi pelambatan dari pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang sebesar 5,03%.

ADVERTISEMENT

Pertumbuhan ekonomi yang melambat akan memberikan dampak langsung terhadap kemampuan korporasi dan individu untuk membayar pajak.

“Daya beli masyarakat yang tertahan juga berkontribusi terhadap turunnya penerimaan dari pajak konsumsi. Dalam konteks ini, target penerimaan pajak berpotensi tidak tercapai,” tutur Yusuf.

Oleh karena itu, kata dia, upaya pengumpulan pajak di tahun 2025 harus lebih adaptif dan inovatif. Aparat pajak tidak bisa hanya bergantung pada pendekatan perluasan basis pajak secara konvensional. Dibutuhkan reformasi administrasi perpajakan terutama pada sistem implementasi Sistem Inti Administrasi Perpajakan (Core Tax Administration System) atau Coretax.

“Selain itu, pemerintah juga perlu memperjelas arah insentif fiskal agar tetap menjaga keseimbangan antara stimulus ekonomi dan optimalisasi penerimaan,” demikian terang Yusuf.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia