LPEM FEB UI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2025 Capai 4,94%
JAKARTA,investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 akan mencapai 4,94% pada kuartal I-2025 dan secara keseluruhan tahun 2025 berada pada kisaran 4,9% sampai 5%.
“Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tumbuh 4,94% dengan rentang estimasi 4,93%-4,95% pada kuartal-I 2025,” ucap Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam Seri Analisis Makroekonomi Indonesia Economic Outlook 2025 yang diterima pada Minggu (4/5/2025).
Baca Juga:
Mengungkit Pertumbuhan EkonomiDia mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, mesin pertumbuhan struktural ekonomi Indonesia cenderung melemah, yang ditunjukkan oleh penurunan daya beli, menyusutnya jumlah kelas menengah, dan melemahnya produktivitas sektoral secara persisten.
Sebelumnya, perekonomian Indonesia masih bisa mengandalkan faktor musiman, seperti Ramadhan dan Idul Fitri serta libur akhir tahun untuk mendorong kinerja ekonominya. Walaupun masih mampu tumbuh 5% pada kuartal akhir 2024 tetapi dampak faktor musiman semakin melemah.
Pada periode libur akhir tahun lalu, masyarakat cenderung memilih untuk berlibur dan melakukan aktivitas wisata ke destinasi yang lebih dekat secara jarak, menyiratkan pelemahan daya beli seiring dengan mengecilnya pengeluaran untuk kebutuhan tersier.
“Apabila tidak dimitigasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang akan terus melemah seiring dengan semakin kecilnya dorongan dari faktor musiman dan masih belum mampunya melakukan revitalisasi mesin pertumbuhan ekonomi struktural,” tutur dia
Potret suram kondisi ekonomi domestik saat ini diperparah oleh tekanan eksternal. Lantaran eskalasi perang dagang terjadi secara agresif karena dipicu oleh Presiden Trump, dengan rencana pengenaan tarif impor terhadap 90 negara dan kawasan serta adanya risiko tindakan balasan dari berbagai negara, menciptakan efek kejut yang masif terhadap perekonomian global, meningkatkan ketidakpastian dan kepanikan di sektor riil dan pasar keuangan seluruh dunia.
Walaupun saat ini rencana pengenaan tarif impor oleh AS sedang ditangguhkan, potensi perang dagang berskala global masih mungkin terjadi, memicu berbagai risiko negatif terhadap Indonesia, seperti arus investasi, perdagangan internasional, inflasi impor, depresiasi mata uang, tekanan di postur fiskal, serta perlambatan ekonomi secara menyeluruh.
“Menimbang perkembangan terkini terkait kondisi ekonomi domestik dan tekanan ekonomi global, Indonesia tidak berada pada posisi yang baik untuk meraup potensi manfaat dari perang dagang yang akan terjadi,” kata Riefky.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






