Penundaan Rilis Data BPS Ciptakan Ketidakpastian Bagi Pelaku Ekonomi
JAKARTA,investor.id – Sikap Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunda rilis data neraca perdagangan April 2025 dinilai turut menciptakan ruang ketidakpastian yang luas di kalangan investor, pelaku usaha, dan analis pasar. Hal ini membuat transparansi data pemerintah dipertanyakan.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan bila Indonesia ingin keluar dari stigma sebagai negara paling proteksionistik, maka konsistensi, keterbukaan, dan akuntabilitas dalam penyajian data publik harus menjadi langkah awal yang tidak bisa ditawar. Transparansi bukan kelemahan, tetapi fondasi kepercayaan.
“Ketika data disembunyikan atau ditunda tanpa alasan teknis yang meyakinkan, maka keraguan pasar akan berubah menjadi keyakinan bahwa ada yang sedang disembunyikan. Dan itu, lebih merugikan daripada angka defisit itu sendiri,” ucap Syafruddin pada Kamis (15/5/2025).
Menurut dia, langkah BPS ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan mencerminkan mentalitas birokrasi yang enggan diawasi dan tidak menempatkan kebutuhan pasar sebagai prioritas. Ketertutupan data, apalagi menyangkut ekspor dan impor yang menjadi fondasi neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, hanya akan memperkuat persepsi internasional bahwa Indonesia tidak serius membuka diri terhadap integrasi global.
Keputusan BPS untuk menunda rilis data ekspor-impor bulanan memperkuat reputasi negatif Indonesia sebagai negara dengan hambatan perdagangan tertinggi di dunia. Dalam laporan Trade Barrier Index (TBI) 2025, Indonesia menempati peringkat terakhir dari 122 negara, mencerminkan tingkat proteksionisme yang ekstrem di berbagai aspek kebijakan perdagangan, termasuk transparansi informasi.
“Saat negara lain berupaya meningkatkan keterbukaan dan kecepatan informasi ekonomi, Indonesia justru mengambil langkah mundur yang bertentangan dengan prinsip perdagangan modern yang berbasis transparansi dan prediktabilitas,” terang Syafruddin.
BPS menunda rilis neraca perdagangan April 2025. Selama ini rilis neraca perdagangan diumumkan pada tanggal 15 setiap bulan. Namun untuk ke depannya rilis neraca perdagangan dibarengi dengan rilis rutin lain yang dilakukan pada awal bulan. Langkah ini sebagai bentuk komitmen BPS untuk menghadirkan data yang berkualitas, BPS tidak lagi merilis angka sementara perkembangan ekspor impor yang biasanya dikeluarkan setiap tengah bulan
“Dalam rangka meningkatkan kualitas data, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis angka tetap perkembangan Ekspor Impor di setiap awal bulan,”dikutip dari pernyataan resmi yang diterima pada Kamis (15/5/2025).
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam
Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level iniHarga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi
Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas AntamDPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatTag Terpopuler
Terpopuler






