Pengamat Beri Saran Pelonggaran Efisiensi Anggaran di Tengah Ketidakpastian Global
JAKARTA, investor.id – Kinerja perekonomian Indonesia saat ini dihadapkan sejumlah tantangan, yaitu ketidakpastian global yang disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya, adanya perang dagang yang dipicu kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah negara mitra dagangnya. Terkait hal ini, pengamat beri saran pelonggaran efisiensi anggaran di tengah ketidakpastian global.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai perlu adanya sejumlah langkah agar situasi sosial dan ekonomi di dalam negeri tetap stabil. Setidaknya, terdapat sejumlah poin yang perlu dilakukan pemerintah.
Pertama, Pemerintah perlu menjaga stabilitas politik dan keamanan. Kedua, memperkuat ekonomi domestik dengan mempromosikan kebijakan pro bisnis dan merangsang aktivitas ekonomi seperti melonggarkan efisiensi serta menggairahkan perekonomian daerah. Oleh karenanya, Burhanuddin meminta pemerintah dapat melakukan hal tersebut agar kinerja konsumsi domestik tetap terjaga. Hal ini dirinya ungkapkan dalam acara DBS Asian Insights Conference di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (21/5/2025).
"Pertumbuhan ekonomi kita banyak di-support domestic consumption, jangan sampai itu merosot gara-gara penurunan daya beli. Saya berharap pemerintah memikirkan soal relaksasi efisiensi," tutur Burhanuddin. Ia melanjutkan, untuk poin yang ketiga ia mengharapkan pemerintah juga dapat melakukan penerapan pendekatan diplomasi yang seimbang, melibatkan menjaga hubungan positif dengan semua kekuatan internasional utama dan menghindari terjebak dalam blok kekuatan tertentu.
Sebagai contoh, Burhanuddin mendukung langkah Indonesia masuk ke dalam BRICS yang merupakan kumpulan negara surplus.
Namun, kata dia, jangan sampai Indonesia dapat dianggap sebagai bagian dari poros Rusia dan China. Indonesia juga perlu meningkatkan kontak dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta memberikan kesan keanggotaan Indonesia di BRICS dimotivasi oleh pertimbangan ideologis.
"Pemerintah perlu menerapkan diplomasi yang seimbang terutama pasca masuknya Indonesia ke BRICS. Jangan sampai Indonesia dianggap memasuki poros bersama China dan Rusia," pungkas Burhanuddin.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






