Jumat, 15 Mei 2026

Pengamat Beri Saran Pelonggaran Efisiensi Anggaran di Tengah Ketidakpastian Global

Penulis : Bambang Ismoyo
21 Mei 2025 | 20:38 WIB
BAGIKAN
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi. (Foto: BeritaSatu Photo/ Mohammad Defrizal)
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi. (Foto: BeritaSatu Photo/ Mohammad Defrizal)

JAKARTA, investor.id – Kinerja perekonomian Indonesia saat ini dihadapkan sejumlah tantangan, yaitu ketidakpastian global yang disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya, adanya perang dagang yang dipicu kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah negara mitra dagangnya. Terkait hal ini, pengamat beri saran pelonggaran efisiensi anggaran di tengah ketidakpastian global.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai perlu adanya sejumlah langkah agar situasi sosial dan ekonomi di dalam negeri tetap stabil. Setidaknya, terdapat sejumlah poin yang perlu dilakukan pemerintah.

Pertama, Pemerintah perlu menjaga stabilitas politik dan keamanan. Kedua, memperkuat ekonomi domestik dengan mempromosikan kebijakan pro bisnis dan merangsang aktivitas ekonomi seperti melonggarkan efisiensi serta menggairahkan perekonomian daerah. Oleh karenanya, Burhanuddin meminta pemerintah dapat melakukan hal tersebut agar kinerja konsumsi domestik tetap terjaga. Hal ini dirinya ungkapkan dalam acara DBS Asian Insights Conference di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (21/5/2025).

ADVERTISEMENT

"Pertumbuhan ekonomi kita banyak di-support domestic consumption, jangan sampai itu merosot gara-gara penurunan daya beli. Saya berharap pemerintah memikirkan soal relaksasi efisiensi," tutur Burhanuddin. Ia melanjutkan, untuk poin yang ketiga ia mengharapkan pemerintah juga dapat melakukan penerapan pendekatan diplomasi yang seimbang, melibatkan menjaga hubungan positif dengan semua kekuatan internasional utama dan menghindari terjebak dalam blok kekuatan tertentu.

Sebagai contoh, Burhanuddin mendukung langkah Indonesia masuk ke dalam BRICS yang merupakan kumpulan negara surplus.

Namun, kata dia, jangan sampai Indonesia dapat dianggap sebagai bagian dari poros Rusia dan China. Indonesia juga perlu meningkatkan kontak dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta memberikan kesan keanggotaan Indonesia di BRICS dimotivasi oleh pertimbangan ideologis.

"Pemerintah perlu menerapkan diplomasi yang seimbang terutama pasca masuknya Indonesia ke BRICS. Jangan sampai Indonesia dianggap memasuki poros bersama China dan Rusia," pungkas Burhanuddin.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 26 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 30 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia