Jumat, 15 Mei 2026

Meski APBN Surplus, Kebijakan Efisiensi Anggaran Tetap Perlu Dievaluasi

Penulis : Vinnilya Huanggrio
27 Mei 2025 | 16:54 WIB
BAGIKAN
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah melaporkan surplus APBN sebesar Rp 4,3 triliun pada April 2025, setelah tiga bulan berturut-turut mengalami defisit. Meski surplus tersebut memberikan ruang fiskal yang lebih longgar, kebijakan efisiensi anggaran dinilai tetap perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Wakil Direktur LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki, menekankan bahwa efisiensi anggaran bukan sekadar soal memangkas belanja, tetapi memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan berdampak nyata terhadap perekonomian.

“Efisiensi itu harus berdampak. Kalau realokasi belanja justru mengarah ke sektor-sektor yang tidak produktif atau program populis yang minim multiplier effect, maka surplus fiskal tidak akan cukup menolong perlambatan ekonomi yang sedang terjadi,” kata Jahen saat dihubungi pada Selasa (27/5/2025).

ADVERTISEMENT

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 hanya mencapai 4,87% atau lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Salah satu penyebab utamanya adalah perlambatan belanja pemerintah, yang tercatat mengalami kontraksi hingga 1,38%.

“Ini harus menjadi alarm. Pemerintah harus memastikan bahwa strategi efisiensi anggaran tidak bertentangan dengan kebutuhan stimulus di tengah ekonomi yang sedang melambat,” tambah Jahen.

Lebih lanjut, Jahen mengingatkan bahwa sekitar 10% dari PDB nasional sangat dipengaruhi oleh belanja pemerintah. Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan, pemerintah seharusnya berperan lebih aktif dalam menjaga daya beli masyarakat.

Meski APBN Surplus, Kebijakan Efisiensi Anggaran Tetap Perlu Dievaluasi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade. (Ilustrasi: Investor Daily)

“Kami apresiasi program insentif dan subsidi listrik yang akan digelontorkan pertengahan tahun ini. Tapi yang lebih krusial adalah timing dan efektivitasnya. Jangan sampai terlambat merespons perlambatan ekonomi yang sudah tampak sejak awal tahun,” jelas dia.

Meskipun sisi penerimaan negara menunjukkan optimisme, terutama saat musim pelaporan pajak tahunan, Jahen menilai momentum surplus fiskal harus dimanfaatkan dengan bijak. Ia mendorong pemerintah untuk fokus pada sektor-sektor yang dapat memberikan dampak berantai terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan produktivitas.

“Jangan sampai efisiensi anggaran malah jadi kontra-siklus. Di saat ekonomi butuh dorongan, justru belanja dikurangi. Ini berbahaya,” tegasnya.

Sejumlah ekonom juga menyebut perlunya kajian berbasis bukti (evidence-based policy) dalam menentukan pos-pos anggaran prioritas, terutama menyangkut proyek infrastruktur, pendidikan, dan program perlindungan sosial.

“Kalau 60% perekonomian kita ditopang oleh sektor informal, maka intervensi pemerintah harus tepat sasaran agar sektor ini tetap hidup dan mendorong pertumbuhan,” pungkas Jahen.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 16 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 54 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 58 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia