Ekonom Prediksi Surplus Neraca Perdagangan Menyusut Jadi US$ 2,7 Miliar pada April 2025
JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) akan menyampaikan perkembangan neraca perdagangan besok, pada Senin (2/6/2025). Sementara itu, Tim Ekonom Bank Mandiri memperkirakan neraca perdagangan akan mengalami surplus sebesar US$ 2,7 miliar pada April 2025.
Tim Ekonom Bank Mandiri memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia akan lebih rendah dari surplus yang terjadi pada Maret 2025 yang mencapai US$ 4,33 miliar, seiring pelambatan dari kinerja ekspor.
“Neraca perdagangan diperkirakan mencatat surplus sebesar US$ 2,7 miliar pada April 2025 dari US$ 4,33 miliar pada Maret 2025, sejalan dengan moderasi ekspor akibat penurunan harga komoditas,” ucap Kepala Ekonom Bank Permata Andry Asmoro dalam pernyataan resmi yang diterima pada Minggu (1/6/2025).
Meski surplus neraca perdagangan menyusut, tetapi antisipasi pelaku usaha terhadap penundaan tarif resiprokal pada April diperkirakan menjadi faktor utama yang mendorong ekspor tetap tumbuh positif. Pada April 2025 ekspor diperkirakan tumbuh 4,6% secara tahunan (yoy) tetapi terkontraksi 11,8% secara bulanan (mom).
“Penurunan kinerja ekspor secara bulanan disebabkan oleh berlanjutnya moderasi harga komoditas terutama batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel. Sementara secara tahunan harga minyak kelapa sawit dan baja masih tumbuh positif,” kata Andry.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data neraca perdagangan dalam konferensi pers pada Senin (2/6/2025). Hal ini akan diumumkan bersama indikator lainnya yaitu indeks harga konsumen; indeks harga perdagangan besar Mei 2025; perkembangan nilai tukar petani dan harga produsen gabah Mei 2025; perkembangan pariwisata nasional April 2025; perkembangan transportasi nasional April 2025; serta luas panen dan produksi padi di Indonesia; luas panen dan produksi jagung di Indonesia.
Di sisi lain, impor diperkirakan tumbuh 5,5% secara tahunan tetapi terkontraksi 5,8% secara bulanan pada April 2025. Hal ini sejalan dengan faktor low based effect dari tahun sebelumnya. Berdasarkan tracking data perdagangan dari negara mitra perdagangan utama Indonesia pada April 2025, impor China, India, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang mencatat penurunan secara bulanan.
“Sementara itu, aktivitas industri yang melemah (Purchasing Manager Index/PMI manufaktur 46,7) dan normalisasi impor pasca Ramadan dan Idulfitri akan menjadi faktor yang mendorong impor turun secara bulanan. Data PMI manufaktur juga menyebutkan adanya penurunan aktivitas pembelian bahan baku,” tegas Andry.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






