Paket Stimulus Siap Meluncur, Sri Mulyani: Jaga Ekonomi Tumbuh ‘Dekati’ 5%
JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa paket stimulus ekonomi saat libur sekolah akan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5%. Namun demikian, dia menyebutnya pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 bisa ‘mendekati’ 5%, yang sekaligus menegaskan adanya risiko pertumbuhan di bawah 5%.
Dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin (2/6/2025), Sri Mulyani menerangkan bahwa Presiden Prabowo telah menyetujui paket stimulus ekonomi saat libur sekolah yang berisi lima hal.
Lima hal yang dimaksud adalah diskon transportasi (tiket kereta api, tiket pesawat, dan tiket kapal penyeberangan), diskon tarif tol, penebalan bantuan sosial, bantuan subsidi upah, dan perpanjangan diskon iuran program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Total nilai paket stimulus ekonomi untuk masa liburan sekolah mencapai Rp 24,44 triliun, yang berasal dari APBN dan Non APBN (dunia usaha).
Dia menuturkan, paket stimulus ekonomi ini juga akan dibarengi dengan berbagai langkah percepatan program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG), perumahan, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan rekonstruksi sekolah yang anggarannya Rp 16 triliun.
“Kita harapkan pada kuartal II-2025 tetap bisa dijaga mendekati 5% dari yang tadinya diperkirakan akan melemah akibat kondisi global. Dengan pertumbuhan yang tetap kita jaga, maka kemiskinan dan pengangguran terbuka juga bisa turun lebih cepat,” ujar Sri Mulyani.
Di samping paket stimulus ekonomi itu, pemerintah juga akan mencairkan gaji ke-13 ASN pada Juni 2025. Total anggaran sekitar Rp 49,3 triliun termasuk ASN Pusat, ASN Daerah, TNI/Polri, dan pensiunan.
“Dengan adanya pencairan gaji ke-13, paket stimulus Rp 24,44 triliun, dan akselerasi gaji program-program pemerintah, maka kita harapkan momentum pertumbuhan tetap terjaga,” kata Sri Mulyani.
Dia menerangkan, kondisi dunia masih dalam situasi yang sangat dinamis dengan berbagai persaingan geopolitik dan geoekonomi, mulai dari perang tarif hingga isu keamanan militer yang menyebabkan eskalasi global. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 diperkirakan akan melemah.
“Tadinya, proyeksi 2025 untuk pertumbuhan ekonomi dunia adalah 3,3%, maka dengan adanya risiko dan eskalasi geopolitik melemah hanya 2,8%. Situasi ini tentu akan memberikan pengaruh kepada perekonomian nasional, baik itu dari harga-harga komoditas, kegiatan ekspor, dan juga dari sisi volatilitas di sektor keuangan yaitu nilai tukar dan suku bunga,” ungkap Sri Mulyani.
Oleh karena itu, kata dia, diperlukan langkah antisipasi melalui intervensi APBN sesuai dengan UU APBN TA 2025, dimana pemerintah dapat melakukan langkah-langkah kebijakan baik itu dari sisi belanja negara, pendapatan negara, atau dari sisi pembiayaan untuk menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian maupun untuk menjaga stabilitas.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






