Pengamat Sebut Alasan di Balik Deflasi Indonesia Tak Sesuai Harapan
JAKARTA, investor.id – Pengamat menyebutkan alasan di balik deflasi Indonesia yang dinilai tak sesuai harapan. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal merespons deflasi sebesar 0,37% secara bulanan atau month-to-month (MtM) pada Mei 2025. Angka deflasi tersebut dianggap melampaui perkiraan banyak pengamat.
“Itu memang di luar daripada perkiraan banyak kalangan, termasuk dari kami sendiri,” kata Faisal saat dihubungi B-Universe, Selasa (3/6/2025). Awalnya, Faisal memang memprediksi deflasi bakal terjadi di bulan Mei. Sebab, dua bulan sebelumnya yakni saat lebaran terjadi inflasi inti pada level 2,48% secara tahunan (YoY).
Namun, Faisal tak menyangka deflasi Mei 2025 berada di titik 0,37% atau berada di level terendah apabila dibanding periode yang sama tahun lalu saat terjadi deflasi di angka 0,03%.
Hal tersebut mengejutkan banyak kalangan lantaran deflasi berberengan dengan panen raya di sejumlah wilayah di Indonesia. “Ini juga sebetulnya agak cukup menarik karena cukup di luar kebiasaan,” imbuh Faisal. Ia lantas mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan deflasi berada di angka 0,37%.
Faktor pertama adalah turunnya harga pangan saat panen raya. Dia mencontohkan sejumlah komoditas pangan yang menyumbang deflasi, mulai dari harga cabai, bawang merah, hingga bawang putih. Sejumlah komoditas pangan tersebut, kata Faisal, menyebabkan deflasi lantaran mempunyai daya beli yang rendah di masyarakat.
“Demand-nya yang juga melemah. Jadi ada faktor istilahnya demand pool disinflation,” ujar dia.
Selain faktor tersebut, Faisal juga menilai deflasi sebesar 0,37% juga dipicu gagalnya sejumlah stimulus yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Terlebih, beberapa bulan belakangan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala yang besar. Fenomena tersebut juga dinilai memicu deflasi.
Di sisi lain, pemerintah dianggap tak menyediakan lapangan kerja yang layak. Faisal mencontohkan upah pekerja di sektor formal tak mengalami kenaikan yang signifikan. “Orang yang bekerja di sektor formal yang lebih banyak itu akan mempengaruhi pendapatan orang yang bekerja di sektor informal,” terang Faisal.
“Karena orang yang bekerja di sektor informal itu banyak juga bergantung pada aktivitas orang yang bekerja di sektor formal,” ungkapnya. Faisal pun mendorong pemerintah melakukan sejumlah kebijakan strategis guna mengatasi deflasi 0,37%. Diantaranya menciptakan lapangan kerja hingga meningkatkan upah.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,37% secara bulanan atau month-to-month (MtM) pada Mei 2025. Angka tersebut menjadi yang terdalam jika dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






