Jumat, 15 Mei 2026

Pengamat Sebut Alasan di Balik Deflasi Indonesia Tak Sesuai Harapan

Penulis : Ilham Oktafian
3 Jun 2025 | 18:44 WIB
BAGIKAN
Seorang karyawan mengisi tangki sepeda motor pelanggan di sebuah SPBU di Jakarta, Indonesia, Senin (5/5/2025). (Foto: AP/ Tatan Syuflana)
Seorang karyawan mengisi tangki sepeda motor pelanggan di sebuah SPBU di Jakarta, Indonesia, Senin (5/5/2025). (Foto: AP/ Tatan Syuflana)

JAKARTA, investor.id – Pengamat menyebutkan alasan di balik deflasi Indonesia yang dinilai tak sesuai harapan. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal merespons deflasi sebesar 0,37% secara bulanan atau month-to-month (MtM) pada Mei 2025. Angka deflasi tersebut dianggap melampaui perkiraan banyak pengamat.

“Itu memang di luar daripada perkiraan banyak kalangan, termasuk dari kami sendiri,” kata Faisal saat dihubungi B-Universe, Selasa (3/6/2025). Awalnya, Faisal memang memprediksi deflasi bakal terjadi di bulan Mei. Sebab, dua bulan sebelumnya yakni saat lebaran terjadi inflasi inti pada level 2,48% secara tahunan (YoY).

Namun, Faisal tak menyangka deflasi Mei 2025 berada di titik 0,37% atau berada di level terendah apabila dibanding periode yang sama tahun lalu saat terjadi deflasi di angka 0,03%.

ADVERTISEMENT

Hal tersebut mengejutkan banyak kalangan lantaran deflasi berberengan dengan panen raya di sejumlah wilayah di Indonesia. “Ini juga sebetulnya agak cukup menarik karena cukup di luar kebiasaan,” imbuh Faisal. Ia lantas mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan deflasi berada di angka 0,37%.

Faktor pertama adalah turunnya harga pangan saat panen raya. Dia mencontohkan sejumlah komoditas pangan yang menyumbang deflasi, mulai dari harga cabai, bawang merah, hingga bawang putih. Sejumlah komoditas pangan tersebut, kata Faisal, menyebabkan deflasi lantaran mempunyai daya beli yang rendah di masyarakat.

Demand-nya yang juga melemah. Jadi ada faktor istilahnya demand pool disinflation,” ujar dia.

Selain faktor tersebut, Faisal juga menilai deflasi sebesar 0,37% juga dipicu gagalnya sejumlah stimulus yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Terlebih, beberapa bulan belakangan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala yang besar. Fenomena tersebut juga dinilai memicu deflasi.

Di sisi lain, pemerintah dianggap tak menyediakan lapangan kerja yang layak. Faisal mencontohkan upah pekerja di sektor formal tak mengalami kenaikan yang signifikan. “Orang yang bekerja di sektor formal yang lebih banyak itu akan mempengaruhi pendapatan orang yang bekerja di sektor informal,” terang Faisal.

“Karena orang yang bekerja di sektor informal itu banyak juga bergantung pada aktivitas orang yang bekerja di sektor formal,” ungkapnya. Faisal pun mendorong pemerintah melakukan sejumlah kebijakan strategis guna mengatasi deflasi 0,37%. Diantaranya menciptakan lapangan kerja hingga meningkatkan upah.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,37% secara bulanan atau month-to-month (MtM) pada Mei 2025. Angka tersebut menjadi yang terdalam jika dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 54 detik yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 12 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 16 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 54 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 58 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia