Jumat, 15 Mei 2026

Pengusaha Belum Puas dengan Tarif AS Sebesar 19%

Penulis : Bambang Ismoyo
16 Jul 2025 | 15:32 WIB
BAGIKAN
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di kantor B-Universe, Tangerang, Selasa (15/7/2025). (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di kantor B-Universe, Tangerang, Selasa (15/7/2025). (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengapresiasi langkah Pemerintah yang sukses melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) perihal tarif yang semula ditetapkan 32%, dan kini mampu mencapai kesepakatan menjadi 19%. Namun demikian, Apindo belum puas dengan angka tersebut dan mengharapkan tarif yang lebih rendah.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengungkapkan, sejumlah pihak yang perlu diapresiasi oleh para pelaku usaha yakni para delegasi atau Tim Negosiasi yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Serta utamanya Presiden Prabowo Subianto yang disebut juga langsung turun tangan untuk mencapai kesepakatan.

“Terkait update posisi tarif 19% terhadap produk ekspor Indonesia ke pasar AS, kami memandang bahwa kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi yang jauh lebih baik dibandingkan proposal tarif awal sebesar 32%,” ungkap Shinta dalam pernyataannya, Rabu (16/7/2025).

ADVERTISEMENT

Meski demikian, Shinta berharap mungkin saja masih ada ruang untuk bisa bernegosiasi menjadi lebih rendah lagi. Alias, besaran tarif dapat disepakati di bawah 19%.

Jika dibandingkan dengan negara kawasan di Asia Tenggara, besaran tarif AS terhadap Indonesia cenderung lebih rendah. Diketahui, tarif Indonesia saat ini 19% lebih rendah dibandingkan posisi Thailand (36%), Laos (40%), Malaysia (25%), dan Vietnam (20%, dengan ketentuan tambahan untuk transshipment).

“Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, dengan update tarif saat ini posisi Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif,” ucap Shinta.

Dirinya mengungkapkan, hal ini menunjukkan Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga daya saing ekspor, terutama pada produk ekspor kita seperti tekstil, alas kaki, furnitur, hingga perikanan yang memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap pasar Amerika Serikat.

Meski demikian, sejumlah negara pesaing Indonesia di Asean saat ini masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah AS.

“Karena itu, kita perlu terus mencermati perkembangan posisi akhir kompetitor Indonesia, yang bisa saja mengubah konstelasi persaingan kawasan dalam waktu dekat,” jelas Shinta.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia