Ada Andil Trump di Pertumbuhan Ekonomi RI Sebesar 5,12%
JAKARTA, investor.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 yang di atas ekspektasi sebesar 5,12% year on year (yoy) ikut serta didorong sentimen dari kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pengiriman barang dari RI ke AS seketika melonjak, sebelum tarif benar-benar diberlakukan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor barang dan jasa menjadi kontributor terbesar dari sisi pengeluaran yaitu tumbuh 10,67% yoy (kuartal I-2025: 6,78% yoy) dan menyumbang 2,43% terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2025.
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, lonjakan ekspor Indonesia sebesar itu dipicu oleh strategi front loading yang dilakukan pelaku usaha, menyusul pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS ke banyak negara pada 2 April 2025 lalu.
Para eksportir mempercepat pengiriman barang ke AS sebelum tarif baru Trump diberlakukan pada 7 Agustus 2025. Langkah ini diambil untuk menghindari beban tarif tambahan yang berpotensi menggerus daya saing produk Indonesia di pasar AS.
“Jadi mumpung baru diumumkan, belum diberlakukan, karena diberlakukannya baru Agustus tanggal 7 ini. Jadi banyak pesanan ekspor sebelum kenaikan tarif itu dilakukan, bahkan sesudah terjadi pengumuman tersebut,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Kebijakan tarif tersebut merupakan langkah resiprokal yang diambil Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Meski akhirnya tarif ditetapkan sebesar 19%—lebih rendah dari rencana awal sebesar 32% yang diumumkan pada April lalu—pemerintah Indonesia tetap mencermati secara saksama dampaknya terhadap kinerja ekspor nasional ke depan.
“Kita nanti harus melihat secara hati-hati dampak keputusan dari Presiden Trump menetapkan 19%, yang lebih rendah dari yang diumumkan awal. Kita harapkan momentum akan terjaga di kuartal III dan IV, ekspor jasa tumbuh tinggi 11,17%,” tambahnya.
Sri Mulyani juga menekankan bahwa stabilitas ekspor akan sangat bergantung pada kondisi global dan respons strategis pelaku usaha dalam menyesuaikan diri terhadap tantangan pasar internasional, termasuk potensi pengalihan tujuan ekspor ke negara-negara lain.
Sebelumnya, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyampaikan bahwa nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal II-2025 tercatat sebesar Rp 5.947 triliun, sementara berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp3.396,3 triliun.
“Pertumbuhan ekspor didorong oleh kenaikan nilai ekspor non migas dan kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar Edy, seraya menambahkan bahwa kinerja ekspor ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian di tengah ketidakpastian global.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






