Jumat, 15 Mei 2026

CSIS: Tanpa Aksi Nyata dari Pemerintah, Krisis 1998 Bisa Terulang

Penulis : Akmalal Hamdhi
2 Sep 2025 | 18:00 WIB
BAGIKAN
Media Briefing CSIS bertajuk "Wake Up Call dari Jalanan: Ujian Demokrasi dan Ekonomi Kita" di Auditorium CSIS, Jakarta, Selasa (2/9/2025). (B-Universe Photo/Akmalal Hamdhi)
Media Briefing CSIS bertajuk "Wake Up Call dari Jalanan: Ujian Demokrasi dan Ekonomi Kita" di Auditorium CSIS, Jakarta, Selasa (2/9/2025). (B-Universe Photo/Akmalal Hamdhi)

Sedangkan dana Transfer ke Daerah (TKD) dipangkas, sehingga kapasitas fiskal daerah terbatas. Akibatnya, pemerintah daerah terpaksa menaikkan Pajak Bumi Bangunan (PBB) yang menambah beban masyarakat. Ini yang menyulut aksi demonstrasi di Pati, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

“Singkatnya, protes-protes ini merupakan akumulasi keresahan atas kesulitan hidup yang kian mencekik dan kecewa atas negara yang hari ini terasa kian abai. Rakyat merasa dikhianati karena elit politik tampil arogan dan tidak peka,” urai Deni.

Dia mengatakan, adanya fenomena Indonesia gelap vs Indonesia terang, kontroversi tunjangan DPR, dan lain-lain adalah bukti bahwa negara tidak mendengar apa yang disampaikan masyarakat. Jika permasalahan dibiarkan, risiko krisis ekonomi, delegitimasi negara, dan degradasi demokrasi akan meningkat. Bahkan, sejarah krisis 1997–1998 dikhawatirkan bisa terulang.

“Ketimpangan, kesulitan ekonomi, korupsi, dan lemahnya penegakan hukum dapat mengakibatkan krisis multidimensional yang parah dan berlangsung lama,” kata Deni.

ADVERTISEMENT

Untuk mencegah kondisi memburuk, CSIS mendesak pemerintah untuk segera membangun kembali kepercayaan fiskal melalui empati dan tindakan nyata. Ada beberapa rekomendasi, pertama, menghentikan pemborosan anggaran dan alihkan belanja dari proyek-proyek tidak produktif ke sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja dan memberikan perlindungan sosial.

Kedua, Tingkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam penggunaan anggaran dan layanan publik. Ketiga, tinjau ulang dan desain ulang program-program prioritas pemerintah agar lebih efisien, efektif, dan berkelanjutan. Keempat, membuka dialog dengan seluruh pihak, termasuk buruh dan pelaku usaha, untuk memperbaiki perizinan dan menciptakan lapangan kerja yang layak.

Deni menegaskan bahwa stabilitas sosial-ekonomi hanya dapat dicapai melalui kebijakan yang responsif dan berkeadilan, bukan melalui tindakan represif. Tanpa fondasi ekonomi yang adil, Indonesia berisiko kembali menghadapi krisis multidimensional yang parah.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia