Kamis, 14 Mei 2026

Pengamat: Kebijakan Purbaya Effect Pernah Dilakukan Saat Pandemi

Penulis : Muhammad Farhan
24 Sep 2025 | 09:00 WIB
BAGIKAN
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty. (B-Universe/Muhammad Farhan)
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty. (B-Universe/Muhammad Farhan)

JAKARTA, investor.id - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty menyebutkan bahwa kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memutuskan menggunakan dana kas negara sebesar Rp 200 triliun, sempat dilakukan oleh pemerintah sebelumnya.

Seperti diketahui, Purbaya memutuskan untuk menyalurkan dana kas negara di Bank Indonesia sebesar Rp 200 triliun kepada lima bank himbara, guna menstimulus kredit perbankan agar memutar kembali roda perekonomian.

Telissa mengatakan, bila melihat dalam sejarah, kebijakan Purbaya ini pernah dilakukan pemerintah pada saat pandemi Covid-19. Pada saat itu, dia menyebutkan bank-bank mengalami kesulitan likuiditas.

ADVERTISEMENT

"Kas negara itu bisa memiliki beberapa pilihan, jadi bisa ditaruh di Bank Indonesia (BI) atau di bank himbara," jelas Telissa saat ditemui B-Universe di Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2025).

Menurut Telissa, pemerintah memiliki diskresi untuk mengatur penggunaan kas negara, terutama menjadi kewenangan dari Kementerian Keuangan. Menurut dia, kebijakan ini merupakan bagian dari pengelolaan kas.

"Pilihannya jika mau menaruh di BI, bunganya lebih rendah daripada di bank Himbara. Kalau di BI, konsekuensinya dana itu sebagai uang yang ditahan oleh bank sentral jadi tidak beredar di masyarakat," katanya.

Lebih lanjut, untuk kasus Purbaya Effect ini, penyaluran dana kas negara ke perbankan, uang itu bisa menambah likuiditas bank Himbara. Hal ini dilakukan, menurut Telissa, keputusan tersebut dapat mendorong kepentingan kredit jangka pendek.

"Memang ini dimensinya lebih ke jangka pendek. Jadi untuk mendorong likuiditas di dalam jangka pendek jadi menciptakan kredit dan permintaan agregat," terang Telissa.

Diwartakan sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis perekonomian Indonesia mampu bertahan menghadapi tekanan global. Keyakinan ini diperkuat dengan langkah pemerintah mengucurkan dana Rp 200 triliun ke bank Himbara untuk menjaga likuiditas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Ekonomi kita masih kuat walaupun ada gejolak global, dan kita akan perkuat terus ke depan. Apalagi kami sudah menaruh uang Rp 200 triliun ke perbankan," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Senin lalu (22/9/2025).

Menurut Purbaya, penempatan dana tersebut akan memperkuat sisi permintaan dan penawaran. Langkah ini juga selaras dengan kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga untuk mendorong ekonomi.

"Jadi gerakan kami dengan BI amat sinkron sekarang, sama-sama mendukung pertumbuhan ekonomi," jelas dia.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 7 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 16 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 33 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia