Kamis, 14 Mei 2026

Tambah Armada Baru, Adi Sarana Armada Dapat Pinjaman Rp 150 Miliar

Penulis : Ghafur Fadillah
25 Des 2020 | 17:47 WIB
BAGIKAN
Prodjo Sunarjanto, Direktur Utama PT Adi Sarana Armada Tbk (Assa Rent). Foto: Investor Daily/UTHAN A RACHIM
Prodjo Sunarjanto, Direktur Utama PT Adi Sarana Armada Tbk (Assa Rent). Foto: Investor Daily/UTHAN A RACHIM

JAKARTA, investor.id - PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) baru-baru ini memperoleh fasilitas pinjaman sebanyak Rp 150 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Pinjaman ini bertujuan untuk mengembangkan bisnis sewa kendaraan.

Sekretaris Perusahaan Adi Sarana Armada Hindra Tanujaya menjelaskan, dana hasil pinjaman tersebut akan digunakan perseroan untuk pembelian unit kendaraan untuk disewakan kepada pelanggan.

“Dengan demikian, diharapkan lini bisnis sewa perseroan semakin berkembang dan meningkatkan pendapatan,” jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (25/12).

Adapun sebelumnya, Adi Sarana Armada berencana menerbitkan Obligasi Konversi (convertible bond) melalui Rights Issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).

ADVERTISEMENT

Dalam aksi korporasi tersebut, ASSA akan menawarkan sebanyak 600 juta Obligasi Konversi bersifat zero coupon yang bisa ditukar dengan saham baru setelah 7 tahun sesuai dengan prospektus yang diterbitkan.

Presiden Direktur Prodjo Sunarjanto mengatakan, setiap pemegang 453 saham lama ASSA yang tercatat pada 7 Januari 2020 berhak memperoleh 80 HMETD saham baru, di mana setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak satu Obligasi konversi pada harga pelaksanaan yaitu Rp 750,- per saham.

“Sehingga perseroan berpotensi meraup dana sebesar Rp 450 miliar, yang akan digunakan untuk pelunasan pinjaman bank, serta untuk pengembangan usaha anak Perseroan,” ujarnya.

Kemudian, untuk penukaran dari Obligasi Konversi menjadi saham dapat dilakukan sejak tanggal Emisi hingga sebelum tanggal jatuh tempo Obligasi Konversi yaitu 7 tahun kemudian pada tanggal 20 Januari 2028. Bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya, maka kepemilikan sahamnya akan terdilusi maksimal sebesar 15,01%.

Sedangkan International Finance Corporation (IFC) akan bertindak sebagai pembeli siaga yang akan mengambil bagian atas obligasi konversi yang tidak diambil oleh para pemegang saham Perseroan dalam pelaksanaan PMHMETD.

Menilik laporan keuangan, emiten berkode saham ASSA itu membukukan lonjakan pendapatan mencapai 28,14% menjadi Rp 2,14 triliun, dibandingkan hingga September 2019 senilai Rp 1,67 triliun. Kendati demikian, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik turun hingga 41,70% menjadi Rp 51,19 miliar pada akhir September 2020.

Secara rinci, beban penjualan tercatat naik hingga 79,22% dari Rp 7,22 miliar menjadi Rp 12,94 miliar. Beban umum dan administrasi juga naik 24,23% menjadi Rp 357,47 miliar. Tekanan ini ditambah penurunan kontribusi pendapatan operasi menjadi Rp 14,77 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 23,36 miliar. 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 33 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia