Sabtu, 4 April 2026

Melonjak 635%, BEI Suspend Saham Adaro Minerals (ADMR)

Penulis : Parluhutan Situmorang
13 Jan 2022 | 08:27 WIB
BAGIKAN
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: Perseroan.
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: Perseroan.

JAKARTA, Investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR) setelah melonjak terhitung sejak listing perdana pada 3 Januari 2022.

Berdasarkan data BEI, saham ADMR menguat dari harga listing perdana Rp 100 menjadi Rp 735 hingga penutupan perdagangan saham kemarin. Saham ADMR menorehkan gain maupun ‘cuan’ sebanyak 635% hanya dalam delapan hari transaksi bursa.Lonjakan tersebut mendorong kapitalisasi pasar saham ADMR naik dari Rp 4 triliun menjadi Rp 30,04 triliun

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Lidia M Panjaitan dan Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI Irvan Susandy mengatakan, sehubungan dengan terjadinya kenaikan harga kumulatif secara signifikan pada saham ADMR, BEI memutuskan penghentian sementara perdagangan saham ADMR.

“Penghentian perdagangan saham ADMR dilakukan di pasar reguler dan tunai terhitung sesi I, Kamis (13/1). Suspensi untuk memberikan waktu memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang informasi dalam pengambilan keputusan investasi pada saham ADMR,” tulisnya melalui pengumuman resminya di Jakarta, kemarin.

Adaro Minerals sebelumnya menggelar IPO dengan melepas sebanyak 6,05 miliar saham atau setara degnan 15%. Saham tersebut dilepas direntang harga Rp 100, sehingga total dana yang diraup dari aksi korporasi ini Rp 604,86 miliar.

Terkait prospek bisnis, Adaro Minerals melalui prospektus yang diterbitkan sebelumnya menyebutkan bahwa permintaan batu bara metalurgi berkaitan erat dengan peningkatan permintaan besi baja. Sedangkan permintaan besi baja dipengaruhi atas peningkatan aktivitas perekonomian negara. Dengan kondisi ekonomi global yang terus membaik setelah dihantam pandemi Covid-19, permintaan besi baja diperkirakan kembali meningkat.

Batu bara metalurgi dijual ke produsen baja yang digunakan untuk memproduksi pig iron/baja. Produsen baja mengubah batu bara menjadi kokas dalam oven kokas, kemudian memasukkan kokas ke blast furnace bersamaan dengan bijih besi dan fluks. Sedangkan jenis batu bara yang diproduksi perseroan adalah hard coking coal (HCC), semi hard coking coal (SHCC), dan green coal (GC).

Kondisi tersebut akan berimbas terhadap kenaikan permintaan batu bara metalurgi ke depan. Permintaan impor terbesar diperkirakan tetap berasal dari Tiongkok, India, Vietnam, dan Turki setidaknya dalam 10 tahun mendatang. Permintaan batu bara metalurgi juga diperkirakan datang dari sejumlah negara lainnya.

Adaro Minerals memproyeksikan bahwa permintaan batu bara metalurgi bakal meningkat dari 331 juta ton pada 2020 menjadi 401 juta ton pada 2040. Sedangkan Tiongkok tercatat sebagai importir terbesar sebanyak 80 juta ton pada 2020, India sebanyak 62 juta ton, dan Jepang sebanyak 55 juta ton.

Ketiga negara tersebut diprediksi tetap menjadi importir batu bara metalurgi hingga tahun 2040 dengan perkiraan impor Tiongkok meningkat menjadi 79 juta ton, India bakal mencapai 109 juta ton, dan Jepang kemungkinan mencapai 48 juta ton.

Adaro Minerals sebelumnya menyebutkan bahwa cadangan dan sumber daya batubara yang dimiliki masih melimpah, yakni sebanyak 170,7 juta ton cadangan dan 980 juta ton sumber daya. Cadangan besar tersebut membuka peluang pertumbuhan bagi perseroan.

Hingga Agustus 2021, pendapatan Adaro Minerals menunjukkan lonjakan menjadi US$ 206,62 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 74,79 juta. Sedangkan laba tahun berjalan bertumbuh menjadi US$ 44,99 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan rugi periode berjalan US$ 18,63 juta. Total aset perseroan mencapai US$ 811 juta, liabilitis US$ 761,96 juta, dan ekutias mencapai US$ 49,03 juta.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


InveStory 10 menit yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 19 menit yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 56 menit yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 1 jam yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 2 jam yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.
Business 2 jam yang lalu

Green SM Dapat Dukungan Pembiayaan BCA Rp600 M

Fasilitas pembiayaan dari BCA ditujukan memperkuat kesiapan operasional serta menjaga keberlanjutan layanan Green SM di sejumlah kota.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia