Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kantor cabang BSI di Jakarta. (Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

Salah satu kantor cabang BSI di Jakarta. (Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

Kuartal III-2022, BSI (BRIS) akan Rights Issue Rp 5 Triliun

Kamis, 19 Mei 2022 | 10:52 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI akan melakukan penambahan modal melalui mekanisme rights issue senilai Rp 5 triliun pada kuartal III-2022. Aksi korporasi itu untuk memenuhi aturan free float dan membiayai ekspansi bisnis perseroan.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo yang akrab disapa Tiko, mengatakan bahwa ada sejumlah faktor pendorong di balik aksi korporasi ini. “BSI akan didorong meningkatkan pangsa pasar di perbankan syariah dari 7% menjadi setidaknya 10%. BSI juga perlu memperluas jaringan, sehingga jangkauan bisnisnya lebih luas dan menjadi bank syariah yang universal,” kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (19/5/2022).

Advertisement

Ia mengatakan, sebagai bank syariah komersial, kecepatan layanan melalui fitur produk BSI pun perlu ditingkatkan dengan tanpa mengurangi aspek kenyamanan. Hal itu dilakukan BSI salah satunya untuk menggaet nasabah milenial yang memang meningkat tajam.

Baca juga: BSI (BRIS) Makin Ekspansif di Timur Tengah

Rights issue BSI kita siapkan Rp 5 triliun, bahkan lebih dari pemegang saham existing, Bank Mandiri, BNI, dan BRI. BSI dapat menjadi bank syariah yang lebih modern dan dapat memenuhi kebutuhan generasi milenial. Harapannya akuisisi customer baru lebih cepat,” jelas Tiko.

Disebutkan, batas minimal free float atau saham publik yang beredar di bursa sebesar 7,5%. Sementara itu, pada laman resmi BSI disebutkan bahwa komposisi pemegang saham BSI saat ini adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 50,95%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebanyak 24,91%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak 17,29%.

Sisanya adalah DPLK BRI sekitar 1,83%, serta BNI Life Insurance hanya 0,01%. Juga pemegang saham lain dengan kepemilikan kurang dari 5% termasuk publik baru sekitar 7,08%.

Lebih lanjut Tiko menjelaskan bahwa aksi korporasi itu tak terlepas dari upaya mewujudkan visi BSI menjadi Top 10 Global Islamic Bank berdasarkan kapitalisasi pasar pada 2025. “BSI akan menjadi instrumen utama bagi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia,” kata Tiko.

Sebelumnya, pada 13 Mei 2022, BSI telah resmi membuka Representative Office BSI di Dubai, Uni Emirat Arab, sebagai realisasi program BUMN Go Global.

Baca juga: Rights Issue, Kimia Farma (KAEF) Incar Dana Rp 4,5 Triliun

Menurut Tiko, pembukaan Representative Office BSI di Dubai merupakan langkah awal menghubungkan perbankan dan keuangan Indonesia dengan pusat-pusat keuangan syariah dunia serta memperdalam penetrasi ekspor ke Afrika dan negara-negara Arab.

Ia berharap BSI dapat mengoptimalkan potensi bisnis di Dubai, yaitu menjadi jembatan penghubung antara Indonesia dan investor global, untuk menginvestasikan dana mereka pada proyek-proyek pemerintah seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), proyek strategis BUMN, dan proyek infrastruktur, serta industri keuangan yang berkelanjutan di Tanah Air.

“Di Persatuan Emirat Arab, kita harus selalu reach up dengan customer dan investor global. Ini adalah transformasi dan inovasi di BUMN,” ujar Tiko.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN