Giliran Bank Mandiri (BMRI) Laporkan Kinerja, Laba Bersih Melejit 61,68%
JAKARTA, investor.id – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengantongi laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20,21 triliun pada semester I-2022, melejit 61,68% dibandingkan laba bersih periode sama tahun sebelumnya Rp 12,50 triliun. Tahun ini, perseroan optimistis pertumbuhan laba bisa meningkat dua digit.
Perolehan laba bersih semester I-2022 didukung dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) Bank Mandiri tumbuh 19% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 41,83 triliun. Kemudian, biaya operasional tumbuh 3,9% (yoy) menjadi Rp 23,93 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, dari sisi profitabilitas, pihaknya melihat di tengah ketidakpastian ekonomi secara domestik, regional, maupun global masih terdapat peluang untuk menumbuhkan bisnis karena Indonesia secara makro ekonomi masih kuat. Tim Chief Economist Bank Mandiri pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh sekitar 5,17% tahun ini.
Di samping itu, pertumbuhan profitabilitas perseroan juga didorong oleh transaksi digital yang terus meningkat. Di mana Bank Mandiri mengoptimalkan super apps Kopra dan Livin’ by Mandiri. "Kami optimis ekonomi tetap baik secara makro dan kami optimis laba Bank Mandiri tahun ini harus meningkat. Sehingga kami sangat optimis pertumbuhan (laba) tumbuh double digit sampai akhir 2022 dibandingkan 2021," jelas Darmawan dalam konferensi pers, Kamis (28/7/2022).
Laba konsolidasi juga didukung dari kontribusi perusahaan anak, di mana laba bersih perusahaan anak sebesar Rp 3,90 triliun, meningkat 50,8% (yoy). Bank berkode emiten BMRI ini berhasil mencatat perbaikan, return on equity (ROE) Bank Mandiri secara konsolidasi tercatat sebesar 23,03% pada periode yang sama, meningkat 791 bps secara tahunan.
Dalam enam bulan pertama 2022, Bank Mandiri dapat mencatatkan pertumbuhan kredit di atas pertumbuhan industri yang sebesar 10,7% (yoy). Kredit perseroan menembus Rp 1.138,31 triliun atau tumbuh 12,22% (yoy).
Lewat pencapaian tersebut, Bank Mandiri juga menjadi bank dengan penyaluran kredit terbesar di Indonesia. Fungsi intermediasi yang baik tersebut, disokong oleh seluruh segmen kredit yang membaik. Salah satunya kredit korporasi yang menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan sebesar 10,6% (yoy) yakni dari Rp 369 triliun menjadi Rp 409 triliun pada akhir Juni 2022.
Dengan membaiknya kinerja sampai paruh pertama tahun ini, perseroan merevisi naik pertumbuhan kredit dari sebelumnya 8% menjadi lebih dari 11% (yoy) tahun ini. "Melihat kinerja yang membaik, kami optimis pertumbuhan kredit Bank Mandiri mampu tumbuh di atas 11% sampai dengan akhir tahun dengan kualitas aset yang terjaga optimal," imbuh Darmawan.
Pertumbuhan kredit ini juga turut mendorong pertumbuhan total aset Bank Mandiri secara konsolidasi yang mencapai Rp 1.785,71 triliun atau tumbuh 12,98% (yoy) sampai dengan kuartal II-2022. Total aset tersebut menjadikan Bank Mandiri sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia.
Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 12,76% (yoy) menjadi Rp 1.318,42 triliun per semester I-2022. Pencapaian tersebut juga menjadikan Bank Mandiri dengan total DPK terbesar di industri perbankan Indonesia. Performa kredit Bank Mandiri pun diikuti oleh kualitas aset yang terjaga.
Darmawan menjelaskan, Bank Mandiri secara konsisten berhasil menjaga perbaikan lewat monitoring serta manajemen risiko yang ketat. Hasilnya, hingga pertengahan 2022 posisi rasio non performing loan (NPL) Bank Mandiri (bank only) turun menjadi 2,47%.
Tidak hanya itu, berkat optimalisasi kualitas aset serta efisiensi, biaya kredit atau cost of credit (CoC) Bank Mandiri pun berhasil ditekan menjadi 1,27% pada semester I. "Dalam menjaga kualitas aset, Bank Mandiri telah menjalankan proses mitigasi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian termasuk menjaga rasio pencadangan dalam posisi yang mencukupi," papar dia.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengungkapkan, sampai dengan Juni 2022 portofolio restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 menurun. sampai dengan akhir Juni 2022 posisi restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 di Bank Mandiri kian melandai menjadi Rp 58,2 triliun. Jumlah tersebut sudah jauh lebih rendah dari posisi Juni 2021 sebesar Rp 96,5 triliun.
"Penurunan ini di-drive oleh pelunasan, pembayaran cicilan dan mulai back to normal, sehingga debitur ada yang tidak ikut program restru lagi," tutur Siddik.
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menjelaskan bahwa semester II ini tren penyaluran kredit mengalami peningkatan. "Kredit positif ini dapat berlanjut di semester II kami fokuskan wholesale pada outlook membaik investasi, ritel, aplikasi Livin dan Kopra akan bantu pertumbuhan kami harap penyaluran kredit melampaui industri," kata Sigit.
Adapun, Bank Mandiri memiliki komitmen yang tinggi untuk mendorong peningkatan pembiayaan berkelanjutan. Pembiayaan berkelanjutan tercatat sebesar Rp 226 triliun. Jumlah tersebut, termasuk penyaluran pembiayaan ke sektor hijau sebesar Rp 105 triliun.
Pertumbuhan kinerja Bank Mandiri, tidak lepas dari peran teknologi pada bisnis perseroan, yakni dengan adanya Livin’ by Mandiri dan Kopra. Livin’ by Mandiri yang handal, hingga hanya dalam 8 bulan sudah diunduh oleh 15 juta downloader dan mampu mengeksekusi hingga 21.000 transaksi per detik.
Jumlah transaksi wholesale Bank Mandiri hingga semester I-2022 tumbuh 72% (yoy) menembus 326 juta transaksi. Platform digital wholesale andalan Bank Mandiri ini juga mampu mencatatkan peningkatan pengguna sebesar 137% dari 23 ribu pada akhir 2021 menjadi 55 ribu akhir Juni 2022. Dengan nilai transaksi mencapai Rp 8.053 triliun atau tumbuh 29% (yoy) di semester I-2022. Akselerasi digital yang konsisten tersebut juga berhasil meningkatkan rasio dana murah (CASA) Bank Mandiri menjadi sebesar 75% di kuartal II-2022.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






