Dolar AS Naik Tajam, Rupiah Dibuka Merosot ke Rp 15.243 per Dolar AS
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi melemah 55 poin atau 0,36 persen ke posisi Rp 15.243 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.188 per dolar AS.
Sedangkan, dolar AS naik tajam pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menguat untuk sesi kedua berturut-turut, karena investor bertaruh untuk laporan penggajian non-pertanian (NFP) AS yang kuat yang akan menjaga Federal Reserve pada jalur pengetatan agresif dalam beberapa waktu.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, melonjak lebih dari 1 persen menjadi 112,22 dan naik sekitar 17 persen untuk sejauh tahun ini.
"Dolar menguat lagi karena saham merosot dan kekhawatiran resesi memukul mata uang Eropa," kata Joe Manimbo, analis pasar senior, di perusahaan pembayaran Convera di Washington.
"Kenaikan dolar juga mencerminkan pasar bertaruh pada laporan pekerjaan solid lainnya yang memperkuat jalur suku bunga hawkish Fed."
Data penggajian non-pertanian AS untuk September akan dirilis pada Jumat waktu setempat, dengan para ekonom memperkirakan angka utama 250.000 pekerjaan baru, dibandingkan dengan 315.000 pada Agustus.
Presiden Fed Chicago Charles Evans pada Kamis (6/10/2022) mengatakan tingkat kebijakan Fed kemungkinan menuju 4,5 persen-4,75 persen pada musim semi 2023 karena Fed meningkatkan biaya pinjaman untuk menurunkan inflasi yang terlalu tinggi.
Euro melemah 0,9 persen terhadap dolar pada 0,9794 dolar, sebelumnya jatuh setelah rilis risalah Bank Sentral Eropa dari pertemuan bulan lalu yang menunjukkan pembuat kebijakan khawatir bahwa inflasi bisa terjebak pada tingkat yang sangat tinggi.
Baca Juga:
Tren Kenaikan Tersendat, Pagi Ini Rupiah Turun Tipis 7 Poin ke Posisi Rp 15.200 per Dolar ASTerhadap yen, dolar naik 0,3 persen menjadi 145,05. Yen mencapai tertinggi sesi 145,135, tidak jauh dari puncak 24 tahun 145,90 yen yang disentuh pada 22 September, yang memicu intervensi pembelian yen dari otoritas Jepang.
Faktor utama yang mendorong pasar mata uang saat ini telah mengubah ekspektasi tentang seberapa agresif bank sentral khususnya Fed akan menaikkan suku bunga.
Pertanyaan kuncinya adalah apakah pembuat kebijakan akan beralih dari kekhawatiran utama tentang inflasi ke juga mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan mungkin mengarah pada kenaikan suku bunga yang lebih hati-hati.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






