Jumat, 15 Mei 2026

Dolar AS Naik Tajam, Rupiah Dibuka Merosot ke Rp 15.243 per Dolar AS

Penulis : Lona Olavia
7 Okt 2022 | 09:23 WIB
BAGIKAN
ilustrasi nilai tukar rupiah
sumber: Antara
ilustrasi nilai tukar rupiah sumber: Antara

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi melemah 55 poin atau 0,36 persen ke posisi Rp 15.243 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.188 per dolar AS.

Sedangkan, dolar AS naik tajam pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menguat untuk sesi kedua berturut-turut, karena investor bertaruh untuk laporan penggajian non-pertanian (NFP) AS yang kuat yang akan menjaga Federal Reserve pada jalur pengetatan agresif dalam beberapa waktu.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, melonjak lebih dari 1 persen menjadi 112,22 dan naik sekitar 17 persen untuk sejauh tahun ini.

ADVERTISEMENT

"Dolar menguat lagi karena saham merosot dan kekhawatiran resesi memukul mata uang Eropa," kata Joe Manimbo, analis pasar senior, di perusahaan pembayaran Convera di Washington.

"Kenaikan dolar juga mencerminkan pasar bertaruh pada laporan pekerjaan solid lainnya yang memperkuat jalur suku bunga hawkish Fed."

Data penggajian non-pertanian AS untuk September akan dirilis pada Jumat waktu setempat, dengan para ekonom memperkirakan angka utama 250.000 pekerjaan baru, dibandingkan dengan 315.000 pada Agustus.

Presiden Fed Chicago Charles Evans pada Kamis (6/10/2022) mengatakan tingkat kebijakan Fed kemungkinan menuju 4,5 persen-4,75 persen pada musim semi 2023 karena Fed meningkatkan biaya pinjaman untuk menurunkan inflasi yang terlalu tinggi.

Euro melemah 0,9 persen terhadap dolar pada 0,9794 dolar, sebelumnya jatuh setelah rilis risalah Bank Sentral Eropa dari pertemuan bulan lalu yang menunjukkan pembuat kebijakan khawatir bahwa inflasi bisa terjebak pada tingkat yang sangat tinggi.

Terhadap yen, dolar naik 0,3 persen menjadi 145,05. Yen mencapai tertinggi sesi 145,135, tidak jauh dari puncak 24 tahun 145,90 yen yang disentuh pada 22 September, yang memicu intervensi pembelian yen dari otoritas Jepang.

Faktor utama yang mendorong pasar mata uang saat ini telah mengubah ekspektasi tentang seberapa agresif bank sentral khususnya Fed akan menaikkan suku bunga.

Pertanyaan kuncinya adalah apakah pembuat kebijakan akan beralih dari kekhawatiran utama tentang inflasi ke juga mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan mungkin mengarah pada kenaikan suku bunga yang lebih hati-hati.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 19 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia