Jumat, 15 Mei 2026

Telkom (TLKM) Garap Proyek Web 3.0, Sahamnya Bersiap Tembus Rp 5.000

Penulis : Muawwan Daelami
22 Nov 2022 | 23:57 WIB
BAGIKAN
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). (Foto: Perseroan)
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) agresif mengembangkan proyek industri Web 3.0 atau internet generasi ketiga. Investasi Telkom di perusahaan-perusahaan rintisan juga menjadi bagian dari strategi perseroan untuk mempersiapkan diri dalam menangkap potensi proyek Web 3.0.

Deputy EVP Digital Technology & Platform Business Telkom Ery Unta menyampaikan bahwa sebagai digital telco, Telkom tentu terus bersiap diri untuk turut andil dalam pengembangan Web 3.0 di Indonesia.

"Kami bekerja sama dengan telco partner. Kami juga mengembangkan sendiri dengan membangun talenta digital dan berinvestasi untuk itu. Karenanya, kami mencari talenta-talenta digital terbaik," ungkap Ery di acara Indonesia Digital Conference bertajuk Industri Telekomunikasi di Era Web 3.0 di Jakarta, Selasa (22/11/2022).

ADVERTISEMENT

Menurut Ery, proyek Web 3.0 tidak lepas dari blockchain yang bukan hanya dimanfaatkan semisal untuk crypto currency. Tetapi lebih jauh dari itu, Web 3.0 juga bisa dimanfaatkan untuk private blockchain. Dalam hal ini, Telkom memiliki Pijar Sekolah yang merupakan platform pendidikan di bawah naungan TLKM.

"Jadi, Pijar ini ada ijazahnya atau sertifikatnya. Sehingga untuk memastikan ijazahnya benar atau tidak, track and tracenya seperti apa, kita bisa memanfaatkan teknologi ini," ucap Ery.

Lebih dari itu, perseroan juga sudah memiliki public blockchain dan telah diujicobakan, salah satunya melalui non-fungible token (NFT) berupa physical digital atau phygital yang kini sudah bisa digunakan para pengguna.

Tak berhenti di situ, konglomerat telekomunikasi pelat merah ini juga terus agresif mengembangkan industri Web 3.0 melalui platform Metanesia yang sudah diluncurkan dan diresmikan Menteri BUMN Erick Thohir pada Juli 2022.

"Kita melihat bahwa setelah era pandemi, sebagian akan bergerak secara fisik, tetapi separuhnya lagi ke digital. Jadi, hybrid digital ini yang akan menjadi tren ke depan. Karenanya, Telkom menempatkan diri sebagai ekosistem hub agar dalam perjalanannya, keberhasilan industri Web 3.0 di Indonesia menjadi hasil dari kerja-kerja kolaboratif," ujar dia.

Dalam lima tahun ke depan, Ery memprediksi, Indonesia masih membutuhkan digital leader, baik yang berkiprah melalui Telkom maupun di entitas yang lain. Itulah mengapa, Telkom kemudian berinvestasi di perusahaan-perusahaan rintisan (startup). Selain untuk menjawab kebutuhan tersebut, juga agar startup binaan Telkom bisa bertransformasi menjadi unicorn.

Pasalnya, dilihat dari perspektif bisnis, Ery menyampaikan, implementasi Web 3.0 dalam sebuah proyek bisnis berpotensi menambah customer experience baru.

"Misalnya ada portal berita yang selama ini bicara melalui web, ditambah channel dengan aplikasi itu akan menambah potensi baru. Apalagi, ditambah dengan metaverse. Penambahan teknologi untuk inisiatif atau bisnis pelanggan jelas akan meningkatkan customer experience dari layanan-layanan yang sudah ada," tutup Ery.

Menuju Rp 5.000

Agresivitas Telkom dalam menggarap industri Web 3.0 juga diperkirakan bakal berdampak pada kinerja saham perseroan di lantai bursa. Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe memprediksi bahwa Telkom berpotensi menjadi salah satu saham yang mencetak gain tinggi sampai akhir tahun.

Kiswoyo menyebut bahwa harga saham Telkom mestinya bisa menembus Rp 5.000. Sebab Telkom merupakan salah satu saham penggerak IHSG. Pada perdagangan Selasa (22/11/2022), saham TLKM ditutup di level Rp 4.000. Dengan demikian, saham TLKM masih berpotensi kasih cuan 25%.

"Menurut saya, penggerak IHSG hanya enam yang besar, di mana empat saham dari emiten bank, sisanya adalah Telkom dan Astra," ujar dia kepada Investor Daily.

Dilihat dari sisi kinerja, lanjut Kiswoyo, Telkom juga berhasil mencetak untung besar. Perseroan mampu tumbuh konsisten, yang tercermin dari pertumbuhan net profit dari tahun ke tahun.

"Bahkan pada saat pandemi, net profit Telkom tetap tinggi dibandingkan operator telekomunikasi lain. Dan kalau bicara dari sisi pelanggan, jumlah pelanggan Telkom juga paling banyak. Satelit dan fiber optik juga banyak. Belum lagi, menara BTS paling banyak. Jadi, Telkom memang paling besar atau the biggest telco," pungkas Kiswoyo.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia