Jumat, 15 Mei 2026

Saham Bank Besar Jadi Bulan-bulanan Pemodal Asing

Penulis : Zsazya Senorita
20 Jan 2023 | 07:00 WIB
BAGIKAN
Karyawan melintas di depan monitor saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)
Karyawan melintas di depan monitor saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)

JAKARTA, Investor.id – Saham-saham bank besar menjadi korban capital ouflow yang terjadi begitu masif di pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Hal ini disebabkan migrasi dana asing ke pasar saham Asia Timur yang valuasinya lebih menarik dibandingkan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Akan tetapi, di tengah derasnya capital ouflow dan kejatuhan harga saham, analis menilai, prospek saham bank besar sangat menjanjikan, didorong solidnya kinerja fundamental. Itu artinya, koreksi harga yang dalam menjadi peluang untuk mengakumulasi saham-saham perbankan.

Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan nett foreign sell (NFS) sebesar Rp 2,1 triliun sejak awal tahun (year to date/ytd), yang mendorong harga saham turun 2,63% menjadi Rp 8.325 per Kamis (19/1/2023). 

Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan NFS Rp 1,2 triliun, sehingga turun 6,68% menjadi Rp 4.610. Demikian pula dengan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang membukukan NFS Rp 1 triliun, sehingga harga turun 1,76% menjadi Rp 9.750. Saham BBCA, BBRI, dan BMRI berada di posisi teratas daftar saham dengan capital outflow tertinggi.

ADVERTISEMENT

Adapun saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masih mencetak net foreign buy Rp 198,9 miliar. Akan tetapi, harga saham BBNI turun 2,98% ke level Rp 8.950, sejalan dengan tiga bank besar lainnya.

Hingga kemarin, akumulasi net sell asing mencapai Rp 4,58 triliun di BEI. Namun, khusus Kamis, asing mencetak net buy Rp 708 miliar, terbesar sepanjang tahun ini. Tren ini diprediksi sulit berlanjut, karena rebalancing dana asing berpotensi masih terjadi hingga kuartal I tahun ini.

Secara ytd, indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI turun 0,45% ke level 6.819. Level ini sudah lebih baik, lantaran indeks sempat menyentuh level terendah 6.584. 

Dalam catatan harian, CLSA Sekuritas Indonesia menyatakan, saat ini, ada peluang besar untuk mengoleksi saham-saham perbankan Indonesia berkapitalisasi pasar besar (blue chip). Sebab, kinerja keuangan tahun lalu sangat cemerlang dan kemungkinan berlanjut tahun ini.

Akan tetapi, demikian CLSA, memasuki 2023, harga saham bank besar malah turun. CLSA percaya, hal itu dipicu oleh aliran dana keluar (capital outflow) saham-saham bank. “Padahal, secara fundamental, tidak ada yang berubah dari saham bank besar,” tulis analisis sekuritas dengan kode broker KZ tersebut, Kamis (19/1/2023).

CLSA melihat ada peluang untuk mengakumulasi saham-saham bank unggulan, seperti BBCA dan BBRI. Alasannya, valuasi dua saham ini telah menurun drastis, terutama untuk BBRI, yang sekarang diperdagangkan sedikit di bawah rata-rata historis.

“Atas dasar itu, kami meng-upgrade saham BBRI dari outperform menjadi buy, tetapi mempertahankan harga target harga. Kami perkirakan fundamental bank tetap kuat. Selain itu, bank-bank BUMN juga menawarkan dividend yield tinggi, berkisar 3,8-5,5% pada 2023,” tulis CLSA.

Dari sisi fundamental, CLSA menegaskan, per November 2022, laba bersih empat bank besar masih solid. Artinya, mereka siap menghadapi ketidakpastian tahun ini dengan cakupan provisi yang luas.

“Selain itu, mereka memiliki kelebihan likuiditas dan kemampuan untuk melakukan repricing suku bunga, sehingga bakal menikmati ekspansi margin,” tulis CLSA.

Posisi Asing

Di sisi lain, Hans Kwee, direktur Equator Swarna Investama, menilai, dana asing keluar dari pasar saham karena realokasi dana kembali (rebalancing) ke Tiongkok, karena pembukaan ekonomi negara tersebut dan valuasinya dianggap lebih murah. Selain itu, bursa saham Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan (Korsel) menjadi pilihan

Dia memprediksi, tahun ini, pertumbuhan ekonomi China melambat dan The Fed nampaknya belum akan selesai menaikkan suku bunga acuan, yang mendorong risiko resesi. Artinya, fenomena dana rebalancing masih ada sampai kuartal I tahun ini.

Itu sebabnya, Hans menilai, asing masih berpotensi keluar dari pasar saham, kendati kemarin mencetak net buy besar. Net buy asing kemarin lebih dipicu oleh keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, sesuai konsensus analis.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 55 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 57 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia