Ultah ke-66, BCA (BBCA) Bikin Investor Saham Happy!
JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA genap berusia 66 tahun pada 21 Februari 2023.
Orang dulu mungkin tak menyangka bahwa BCA bakal menjadi bank dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp 1.000 triliun.
Pada perdagangan Selasa (21/2/2023), saham BBCA diparkir di Rp 8.700, melesat 9,4% bila dibandingkan 21 Februari 2022. Sementara, market cap juga melonjak 9,4% dari Rp 970,2 triliun pada 21 Februari 2022 menjadi Rp 1.061,8 triliun pada 21 Februari 2023.
Dihimpun dari berbagai sumber, cikal bakal BCA adalah NV Perseroan Dagang Dan Industrie Semarang Knitting Factory yang sudah berdiri sejak 1955. Sudono Salim kemudian menyulapnya menjadi NV Bank Central Asia yang bergerak di sektor perbankan. Dengan identitas baru, kantor NV Bank Central Asia juga pindah dari Semarang ke Asemka, Jakarta pada 1957. BCA mulai beroperasi pada 21 Februari 1957.
Baca Juga:
2023, BCA (BBCA) Tetapkan Capex Rp 8,7 TSelain berkat tangan dingin Salim, besarnya nama BCA juga tak bisa lepas dari campur tangan Mochtar Riady yang juga adalah pendiri Lippo Group. Waktu itu, Mochtar Riady diminta secara langsung oleh Salim untuk memimpin BCA. Di bawah kendali Mochtar, BCA terus melaju melampaui Bank Panin yang juga merupakan bank besutan Mochtar Riady.
Kisah berlanjut. Efektif pada 2 September 1975, nama bank diubah menjadi PT Bank Central Asia (BCA). Lalu BCA memperkuat jaringan layanan cabang. Pada tahun 1977 BCA berkembang menjadi bank devisa.
Pada 1980-an, BCA memperluas jaringan kantor cabang secara agresif sejalan dengan deregulasi sektor perbankan di Indonesia.
Di era 1990-an BCA mengembangkan alternatif jaringan layanan melalui ATM (anjungan tunai mandiri atau automated teller machine). Pada tahun 1991, BCA mulai menempatkan 50 unit ATM di berbagai tempat di Jakarta.
Pengembangan jaringan dan fitur ATM dilakukan secara intensif. BCA bekerja sama dengan institusi terkemuka, antara lain PT Telkom untuk pembayaran tagihan telepon melalui ATM BCA. BCA juga bekerja sama dengan Citibank agar nasabah BCA pemegang kartu kredit Citibank dapat melakukan pembayaran tagihan melalui ATM BCA.
Namun laju BCA sempat menemui jalan terjal di kala Indonesia terkena krisis moneter. BCA mengalami bank rush. Pada tahun 1998 BCA menjadi bank take over (BTO) dan disertakan dalam program rekapitalisasi dan restrukturisasi yang dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), suatu institusi pemerintah.
Krisis kepercayaan nasabah ini dipicu sentimen negatif kedekatan Salim dengan Presiden Soeharto yang saat itu mundur dari jabatan presiden. Kepemilikan saham Soeharto diwakili oleh dua anaknya, yakni Sigit Haryoyudanto dan Siti Hardiyanti Hastuti yang masing-masing mengempit 20% dan 10% saham BCA. Hilangnya dana kelolaan membuat keuangan BCA porak poranda, hingga akhirnya pemerintah melalui BPPN resmi menjadikan BCA sebagai BTO.
Pada 1999, proses rekapitalisasi BCA selesai, di mana Pemerintah Indonesia melalui BPPN menguasai 92,8% saham BCA sebagai hasil pertukaran dengan bantuan likuiditas Bank Indonesia. Dalam proses rekapitalisasi tersebut, kredit pihak terkait dipertukarkan dengan obligasi pemerintah.
Disebut juga bahwa pemerintah pada 1999 berencana menjual saham BCA lewat mekanisme di bursa efek dengan harga penawaran sebesar Rp 1.400 per saham. Namun saham BCA yang dijual pemerintah tak laku dan akhirnya tetap digenggam oleh pemerintah.
Penjajakan saham BCA kembali dilakukan di era Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002. Pemerintah saat itu menjual 51% saham BCA ke publik. Awalnya, BCA diperebutkan oleh 15 calon pembeli hingga akhirnya Standard Chartered Bank, Farallon, Bank Mega, dan konsorsium Indonesia yang dipimpin koperasi produsen batiklah yang menjadi empat kandidat yang bersaing ketat.
Perusahaan investasi asal Amerika Serikat, Farallon adalah mitra dari Hartono bersaudara pemilik Grup Djarum. Sedangkan Chairul Tanjung merupakan pemilik dari Bank Mega.
Hingga pada Februari 2002, Farallon resmi menjadi pemilik BCA usai merogoh kocek sedalam US$ 530 juta. Dari sinilah BCA berpindah tangan dari keluarga Salim ke Hartono.
Hubungan Farallon dengan keluarga Hartono tak hanya sekadar mitra bisnis. Keluarga Hartono lewat Grup Djarum mengakuisisi saham Farallon di Farindo Investment sebanyak 92,18% pada 2007. Farindo Investment merupakan perusahaan patungan Grup Djarum melalui Alaerka dan Farallon.
Wonderful Company
Investor saham kawakan Lo Kheng Hong sempat mengungkapkan pendapatnya mengenai BCA. Menurutnya, BCA sudah memperkaya para pemegang sahamnya, baik itu pemegang saham mayoritas maupun investor publik.
Hal tersebut disampaikan Lo Kheng Hong pada sebuah acara diskusi secara online yang disiarkan di di akun Instagram goodlifebca, tahun lalu.
“Kalau kita kembali 22 tahun lalu ketika BCA IPO di harga 1.400. Sekarang sahamnya sudah split dari satu menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan, delapan menjadi 40 dikali 7.725. Hari ini sekarang sudah 300.000 lebih. Artinya ada capital gain 21.900%. Jadi kalau orang yang membeli saham IPO BCA 22 tahun lalu 1.400, hari ini (pada awal 2022) sudah mendapatkan capital gain 21.900%,” kata Lo Kheng Hong.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






