Bank-Bank Besar Masih ‘Manggung’ Tahun Ini
JAKARTA, investor.id – Kalangan analis meyakini kinerja dan saham bank-bank besar (big bank’s) masih atraktif tahun ini. Sebab kenaikan suku bunga menjadi momentum bagi bank-bank besar untuk meningkatkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
Bank-bank besar tersebut, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI.
“Jadi yang kemarin NIM-nya relatif di kisaran 5,4%, tahun ini ekspektasinya naik 20-30 basis poin lagi,” kata Head of Research BCA Sekuritas Andre Benas dalam diskusi Stock Market Outlook in 2023, baru-baru ini.
Dia pun optimistis prospek bisnis perbankan tahun ini masih cemerlang selama ekonomi global dan Tiongkok berjalan baik. Hal ini didukung likuiditas bank hingga pertumbuhan kredit yang diprediksi masih akan meningkat pada 2023.
Adapun mengenai resesi global tahun ini, Andre memperkirakan belum akan terjadi hingga kuartal I. Sementara, produk domestik bruto (PDB) dan tingkat konsumsi masih di atas ekspektasi.
Di sisi lain, kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) emiten-emiten bank besar masih cukup rendah. Untuk mengonfirmasi hal itu, investor dapat mengamati pertumbuhan kredit bank pada semester I-2023.
“Tetapi kalau sampai semester II pertumbuhan kredit masih di atas 10%, saya pikir tahun ini sektor perbankan masing ‘manggung’. Saya yakin perbankan terutama ‘big four’ tidak ada masalah,” tutur dia.
Setelah memastikan hal tersebut, investor dapat melihat valuasi saham apakah sudah mahal, termasuk return on equity (ROE), serta apakah ada pergantian direksi, terutama bank BUMN. Secara fundamental, Andre melihat belum ada masalah di sektor bank.
Sementara itu, value investor Rivan Kurniawan menyebutkan, ada beberapa rasio yang bisa dicermati oleh investor. Pertama, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank-bank besar yang rata-rata sudah di atas 20%. Itu tentu tergolong mumpuni dan di atas CAR yang ditetapkan sebesar 14%.
Kedua, NPL bank besar yang rata-rata jauh di bawah 5% mengindikasikan bahwa big bank’s masih mampu menjaga kualitas kredit. Ketiga, rasio paling krusial di tengah kenaikan suku bunga, yakni dana murah atau current account saving account (CASA).
Rasio itu, jelas Rivan, berasal dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun perbankan. “Kalau bicara big bank’s, BCA misalnya, CASA-nya 83% berarti segitu dari dana murah. Bayangkan kalau interest rate naik, hanya 20% saja depositonya bisa menaikan suku bunga kredit,” jelas dia.
Pada saat yang sama, Rivan menilai suku bunga yang naik tak turut menurunkan keinginan masyarakat mengajukan kredit. Sebab Indonesia pernah mengalami kenaikan bunga yang lebih tinggi. Menurutnya, yang menurunkan tingkat kredit adalah ketidakpastian seperti pandemi.
“Jadi big bank’s sudah belajar dari pengalaman, tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, keputusan investasi tetap harus lihat valuasi. Kalau teknikal bisa lihat support dan resistance,” urai Rivan.
Adapun penyebab penurunan tingkat kredit lainnya adalah pertumbuhan ekonomi. Selama ketidakpastian bisa dikendalikan sehingga tidak terlalu tinggi dan pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5%, Rivan percaya kredit masih akan bertumbuh.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






