BRI (BBRI) Tumbuh Berkelanjutan Berkat Empat Faktor
JAKARTA, investor.id — Setelah meraih laba bersih Rop 51,4 triliun tahun 2022, BRI Group akan terus bertumbuh berkat empat faktor, yakni usaha mikro sebagai sumber pertumbuhan, permodalan yang kuat, likuiditas yang cukup, dan kualitas pertumbuhan yang selama ini dijaga. Lebih dari 84% kredit BRI Group diberikan ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ada empat syarat untuk mencapai sustainability growth, dan syarat pertama adalah sumber pertumbuhan baru. Sumber pertumbuhan baru BRI bukan korporasi, melainkan usaha mikro. “BRI itu bakatnya main di UMKM, terutama di mikro, maka kami cari sumber pertumbuhan baru: go smaller, masuk ke usaha mikro dan ultra mikro,” kata CEO BRI (BBRI) Group Sunarso dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi di BRILian Club, Jakarta Selatan, Rabu (1/3/2023).
Baca Juga:
NIM BRI (BBRI) Turun, Laba MelesatSyarat pertama, sumber pertumbuhan baru, mudah diperoleh BRI. Selain core business BRI selama ini adalah kredit kepada UMKM, BRI Group kini menjadi holding company dari BUMN Ultra Mikro (UMi). PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian menjadi anak usaha BRI Group sejak 2021.
“Saya beri tahu Pak Aref (Driut PNM Arief Mulyadi —Red) agar tidak perlu mengejar laba. Tugas Pak Arief adalah grooming (melatih dan mempersiapkan —Red) klien, paling tidak prospective clien agar nantinya bener-bener riel bankable,” ujar Sunarso.
Hingga November 2022, PNM lewat program Mekaar telah menyalurkan kredit Rp 164,7 triliun kepada 13,6 juta nasabah. Ditargetkan, pada tahun 2023, jumlah nasabah PNM mencapai 17 juta dan 2024 naik hingga menembus 20 juta. Meski mengandalkan human touch dalam mendapatkan dan berinteraksi dengan nasabah, BRI menerapkan digitalisasi agar efisien. Bisnis BRI mengombinaiskan human touch dengan teknologi digital.
Syarat kedua untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan, kata Sunarso, adalah permodalan. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BRI saat ini 25,1%. Padahal, untuk menutup counter cyclical risk hanya dibutuhkan CAR 17,5%. “Itu artinya, BRI punya 7,5% lebih. Kalau setiap tahun CAR tumbuh 2% saja, maka saya bisa katakan, tiga-empat tahun ke depan BRI, berapa pun labanya, layak dibagi dalam bentuk dividen. Karenati BRI tidak perlu lagi laba ditahan untuk menopang modal,” papar Presdir PT BRI Tbk.
Pada level CAR yang sudah tinggi, tambahan laba ditahan untuk memperkuat modal justru menurunkan ROE, return on equity. “Jadi, syarat kedua, punya modal yang cukup, dan kita punya modal yang lebih dari cukup,” tukas Sunarso.
Faktor ketiga adalah likuiditas. Likuiditas diukur oleh loan to deposit ratio (LDR). LDR BRI masih berada di level 80-an persen. Sedang LDR yang ideal adalah 90% hingga 92%. “Kalau LDR BRI 90%-92%, kami akan concern pada likuiditas. Tapi, karena masih di bawah 90%, tugas kami adalah lending, lending dan lending. Kasih kredit, kasih kredit, dan kredit,” papar Sunarso.
Faktor keempat adalah quality of growth. BRI harus menjaga kualitas pertumbuhan dengan baik. Itu artinya risk management. “Saya katakan, masyarakat Indonesia bersyukurlah. Kita beruntung punya perekonomian begitu solid, pertumbuhan yang tinggi, dan kondisi perbankan yang solid. Jangan takut naruh uang di bank. Jangan takut untuk minta kredit kepada bank,” ungkap CEO BRI Group.
BRILink Rp 1.297 T
Hingga saat ini, BRI menerapakan sistem hybrid dalam digital banking. Ada produk dan layanan digital, tapi tetap ada tenaga manusia, yakni para agen BRILink. Meski para nasabah sudah bisa menggunakan smartphone, tapi human touch tetap harus ada. “Apalagi para ibu di pelosok. Mereka perlu bertemu orang untuk mendapatkan penjelasan,” kata Sunarso.
Karakteristik nasabah mikro, demikian Sunaso, ternyata unik. Mereka paham platform digital, tapi tidak familiar dengan produk digital. Kemudian, transaksi cash masih menjadi pilihan dominan. Selain itu, mereka membutuh institusi finansial yang sudah local embedded.
Karena nasabah sadar, tidak merasa punya cashflow yang stabil, maka mereka lebih memilih berhubungan dengan para agen daripada langsung ke bank atau memanfaatkan layanan digital. Ini kita respons dengan agen BRILink dan hasilnya, Rp 1.297 triliun kredit lewat agen pada tahun 2022. “Siapa bilang Indonesia digital dominan?,” tanya Sunarso.
BRI memilih hybrid bank untuk menjembatani transaksi tunai dan digital. Karena itu, peran para agen sangat penting. Sekarang, faktanya digital cocok untuk urban people. “Emak-emak di kampung masih butuh human touch. Internal proses kita digitalkan. Ketemu one on one, masih besar, agen ke warung-warung itu dan setahun Rp 1.290 triliun. Ini data,” kata Sunarso.
Manajemen BRI menaikkan produktivitas per orang lewat job desc dan KPI yang jelas. “Dulu, memproses kredit mikro butuh waktu dua minggu, end to end proses. Lalu, kami buat BRIspot, yakni platform pengajuan kredit,” ujar dia..
Baca Juga:
Pesta Laba Bank Besar Berlanjut di 2023Saat ini hampir 90% desa di Indonesia sudah tardata di BRIkodes. “Desa ini kepadatan HP sekian. Desa mana yang paling banyak menggunakan transaksi digital, semua tardata di BRIkodes. Sekarang ini, BRI adalah satu-satunya bank di dunia salurkan yang menyaurkan kredit mikro Rp 1 triliun per hari, minimal. Dari digitalisasi proses itu, maka overheadcost turun tanpa mem-PHK orang,” papar Sunarso.
Butuh Nyali
Untuk menjaga risiko ketidakpastian, BRI melakukan pencadangan hingga 300%. Meski NPL cuma Rp 28 triliun, BRI melakukamn pencadangan Rp 90 triliun. Ini dilakukan untuk mengantisipasi situasi buruk yang bakal terjadi.
Kenapa laba bersih BRI Group bisa naik tajam dari sebelumnya cuma Rp 30,7 triliun menjadi Rp 51,4 triliun? Di mana sumber kenaikan terbesar? “Itu karena BRI berhasilkan melakukan transformasi liabilities. Porsi CASA terus naik. Saya datang tahun 2015 porsi CASA 58%. Sekarang CASA di atas 66,7%. Pada masa lalu ada giro berbunga deposito. Itu giro dari lembaga, masih ada orang naro giro, tapi bunga deposito,” jelas Sunarso.
Transformasi BRI tidak hanya masalah produk dan layanan, tapi juga nyali dan perhitungan. “Kita p unya perhitungan akurat. Punya nyali, tidak pelihara dana mahal ketika dana itu tidak dibutuhkan. Ketika orang tidak butuh kredit. Saya hapus giro berbunga deposito. Ini butuh nyali,” ujarnya.
Pada tahun 2015, kenang Sunarso, ada Rp 200 triliun giro berbunga deposito. Mereka memelihara giro itu karena ingin aset besar. “Semua dana ditaruh di treasury asset, yield 4,5%, cost sekitar 6%, total negative spread 2% dikali Rp 200 triliun. Kok korbankan laba untuk aset?” ujar Sunarso.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






