IHSG Konsolidasi, Pelaku Pasar Nantikan Pertemuan The Fed 28 April
JAKARTA, investor.id – Pekan ini pelaku pasar menanti pertemuan The Fed berikutnya pada 28 April. Ketua The Fed Jerome Powell kemungkinan akan mengulangi pesan bahwa pembicaraan tentang tapering atau pengurangan nilai pembelian aset (quantitative easing/ QE) masih terlalu dini.
Kembali naiknya pasar Wall Street akibat membaiknya kinerja laba korporasi serta terkendalinya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi sentiment positif pasar.
”Pekan ini pelaku pasar akan mencermati rencana pajak Joe Biden (Presiden AS), pernyataan Ketua The Fed, serta naiknya kasus Covid-19 di berbagai negara. IHSG berpeluang konsolidasi menguat pekan ini dengan support di level 5.962 sampai 5.883 dan resistance di level 6.045 sampai 6.115. Cenderung sell on strengh bila terjadi penguatan di atas 6.100,” kata Hans Kwee.
Di sisi lain, sambung Anissa, jika dilihat secara keseluruhan, pemulihan ekonomi Indonesia yang perlahan menunjukkan perbaikan bisa mendorong kembali IHSG.
Dia menyebut sejumlah indikator menunjukkan tren positif seperti kenaikan PMI Manufaktur Indonesia di bulan Maret ke level 53,2 hingga pertumbuhan ekspor dan impor Maret secara year on year (yoy) masing -masing tumbuh 30,47% dan 25,73% atau di atas ekspektasi, menjadi sinyal aktivitas bisnis dalam negeri kembali berjalan.
Adapun pemulihan ekonomi ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah melalui berbagai stimulus seperti relaksasi pajak, suku bunga yang rendah hingga kebijakan DP 0% untuk sektor property dan otomotif dan yang terbaru adalah kewajiban perusahaan membayarkan THR penuh pada karyawan untuk mendorong daya beli kembali pulih.
“Tak hanya itu, proses vaksinasi yang masih berjalan pun diharapkan memberikan penguatan bagi IHSG,” tambahnya.
Sementara untuk pekan ini, kata Anissa, sentimen penggerak indeks masih datang dari rencana kenaikan pajak dua kali lipat di AS, kemudian laporan kinerja kuartal I-2021, kekhawatiran peningkatan kasus virus hingga rilis data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar. Adapun sektor yang menarik pada pekan ini yaitu di sektor konsumsi, telekomunikasi hingga, sektor perbankan dan poultry yang cenderung menguat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.
IHSG, dikatakan Hendriko, pekan ini berpotensi menguji resisten jangka pendek pada level 6.020.
“Apabila berhasil menembus resisten tersebut, IHSG berpotensi menguat menguji level resisten selanjutnya di level 6.111 dengan support IHSG saat ini pada level 5.890-5.900,” sebut dia.
Nico menambahkan, pada pekan ini, sektor infrastruktur, perkebunan, dan keuangan akan berpotensi menjadi leading sector. Di mana, ada potensi penguatan dengan probabilitas 55%, namun pasar berpotensi berbalik arah apabila IHSG tidak konsisten berada di atas 6.075. ”IHSG pekan ini akan bermain di rentang 5.980–6.075,” sebutnya.
Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, penurunan kinerja pasar saham karena efek BPJS Ketenagakerjaan yang cukup berpengaruh terhadap aktivitas transaksi investor khususnya institusi domestik dengan bisnis sejenis seperti Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Taspen) maupun dana pensiun.
“BPJS-TK dianggap sebagai leader atau mercusuar bagi institusi-institusi domestik tersebut. Sehingga pasang-surutnya aktivitas BPJS-TK akan mempengaruhi tindakan institusi- institusi tersebut,” kata Laksono.
Sementara itu, Lucky memperkirakan pada perdagangan sepekan ke depan IHSG cenderung menguat di kisaran 6.075.
Dia menyebut sejumlah sentimen positif yang diharapkan mengerek IHSG pada pekan ini yakni kinerja harga komoditas yang membaik terutama harga minyak yang akan mencapai level US$ 62 per barel, sentimen pasar global yang pada perdagangan pekan kemarin secara umum menunjukkan penguatan, dan kinerja rata-rata mata uang yang baik terutama euro dan poundsterling.
“Pelaku pasar melihat memang IHSG sudah berulang kali di bawah level psikologis 6.000 namun melihat penutupan perdagangan Jumat (23/4) dan sentimen positif dari eksternal maka sepekan ke depan IHSG cenderung menguat,” papar dia. (jn)
Baca juga
https://investor.id/market-and-corporate/saham-bluechips-sudah-undervalued
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






