Jumat, 15 Mei 2026

Sektor Bank Nasional Kuat, Saham BBCA, BBRI, BRIS hingga ARTO Top Picks

Penulis : Parluhutan Situmorang
15 Mar 2023 | 09:06 WIB
BAGIKAN
Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (atm) di kantor Bank Jago di Jakarta. (Foto ilustrasi: B-Universe/Mohammad Defrizal)
Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (atm) di kantor Bank Jago di Jakarta. (Foto ilustrasi: B-Universe/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, investor.id - Kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat (AS) beserta dua bank lainnya, yaitu Silvergate Bank dan Signature Bank, memicu pelemahan sejumlah saham perbankan global kemarin, termasuk saham sejumlah bank di Indonesia. Pada perdagangan Selasa (14/3/2023), harga saham empat bank besar terkoreksi mulai dari 2,5% hingga 4,1%, yang berimbas terhadap penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Bahkan sentimen negatif keruntuhan SVB tersebut memicu pelemahan lebih dalam bagi saham-saham bank digital nasional. Hal ini dipengaruhi adanya persepsi pelaku pasar bahwa bank digital lebih berisiko atas sentimen negatif keruntuhan bank asal AS tersebut.

Lantas, bagaimana imbas sesungguhnya terhadap saham bank digital? BNI Sekuritas menyebutkan justru bank digital di Tanah Air lebih tahan terhadap sentimen negatif tersebut, seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO). Hal ini didukung oleh kelebihan likuiditas Bank Jago setelah mendapatkan dana segar dari rights issue tahun 2021.

ADVERTISEMENT

“Selain likuiditas berlimpah, Bank Jago juga telah menunjukkan kehati-hatian dalam pengelolaan aset dan kewajiban dengan baik. Perseroan juga memegang dana dalam bentuk obligasi bertenor singkat hanya 1,2 tahun dan hanya 20% dari kelebihan likuiditas ARTO yang ditempatkan dalam surat berharga bertenor lebih dari dua tahun,” tulis tim riset BNI Sekuritas dalam risetnya.

Hal ini mendorong BNI Sekuritas menempatkan saham ARTO sebagai pilihan teratas untuk saham bank digital. Bahkan saham ARTO disebut memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan bank digital lainnya yang tercatat di BEI.

Kekuatan Perbankan

Terkait kondisi perbankan nasional, BNI Sekuritas mengungkapkan sejumlah poin penting yang menjadikan perbankan nasional relatif tidak terpengaruh atas sentimen negatif keruntuhan SVB.

Pertama, sektor perbankan Indonesia memiliki posisi LCR dan NFSR yang tinggi, yaitu likuiditas perbankan nasional masih kuat. Kedua, sebagian besar aset bank-bank di Indonesia lebih baik dibandingkan surat berharga yang bisa diperdagangkan.

Kredit berkontribusi sebesar 60% terhadap total aset perbankan nasional dan hanya sekitar 15-20% aset tersebut dalam bentuk surat berharga. Itu pun sebagian besar ditempatkan dalam surat berharga negara, sehingga fluktuasi yield lebih rendah.

Ketiga, perbankan nasional memegang lebih banyak surat berharga yang likuid dan bisa ditransaksikan di bursa, dibandingkan surat berharga yang disimpan sampai jatuh tempo. Berdasarkan perhitungan, hampir 60% surat berharga yang dipegang bank merupakan surat berharga likuid.

Keempat, emiten perbankan Indonesia memiliki kapitalisasi pasar yang besar, bahkan empat bank besar nasional menempati urutan teratas kapitalisasi pasar di bursa efek. Begitu juga dengan bank digital didukung dengan kapitalisasi pasar yang kuat.

Kelima, bank-bank di Indonesia juga memiliki biaya kredit yang stabil setiap tahun, bahkan cenderung turun untuk tahun 2023. Hal ini mencerminkan kualitas aset sejumlah bank tersebut tergolong baik. Keenam, LDR bank nasional masih relatif rendah dengan rata-rata mencapai 81% pada Januari 2023.

Terkait kenaikan suku bunga, BNI Sekuritas menyebutkan, kenaikan tersebut justru berimbas positif terhadap kinerja keuangan emiten perbankan yang ditunjukkan lonjakan laba tahun lalu. Selain itu, siklus kenaikan suku bunga diprediksi mulai mereda dan segera berakhir.

Terkait pertumbuhan kredit, BNI Sekuritas menyebutkan, relatif melemah pada Januari 2023 dengan rata-rata mencapai 10,2% atau terendah sejak Juni 2022. Penurunan dipengaruhi atas rendahnya permintaan kredit modal kerja.

Berbagai faktor tersebut mendorong BNI Sekuritas untuk menempatkan prospek overweight saham sektor perbankan nasional dengan pilihan teratas, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

Sedangkan saham pilihan untuk bank digital adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO). Saham ARTO sebagai pilihan teratas untuk saham bank digital didukung oleh profil risiko paling rendah dibandingkan emiten bank digital lainnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia