Rupiah Naik di Tengah Kenaikan Yield Obligasi AS
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan ini meningkat, di tengah naiknya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS).
Rupiah pada Jumat (17/3) ditutup naik 44 poin atau 0,29% ke posisi Rp 15.345 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.389 per dolar AS.
“Kenaikan pada imbal hasil obligasi AS akan menahan penguatan rupiah lebih lanjut,” kata analis DCFX Futures Lukman Leong, Jumat.
Sesuai laporan Antara, Lukman mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun di 4,218% dan tenor 10 tahun di level 3,581%.
Ia memperkirakan rupiah berpotensi rebound terbatas. Sentimen pasar berbalik positif setelah ada harapan bank-bank global yang bermasalah akan mendapatkan dukungan.
Pemerintah AS akan menjamin nasabah Silicon Valley Bank (SVB), sedangkan Credit Suisse Bank (CSB) di Swiss mendapatkan likuiditas dari bank sentral Swiss alias Swiss National Bank (SNB).
Swiss National Bank pada Rabu (15/3) berjanji untuk mendanai Credit Suisse dengan likuiditas “jika perlu”. Ini adalah bentuan pertama bagi bank global sejak krisis keuangan lebih dari satu dekade lalu.
Credit Suisse pada Kamis (16/3) mengatakan akan meminjam hingga US$ 54 miliar dari bank sentral Swiss untuk menopang likuiditas dan kepercayaan investor, setelah kemerosotan sahamnya meningkatkan kekhawatiran tentang krisis keuangan global.
Otoritas moneter AS meluncurkan langkah-langkah darurat pada Minggu (12/3) untuk menopang kepercayaan pada sistem perbankan, setelah kegagalan SVB mengancam akan memicu krisis keuangan yang lebih luas.
Regulator mengatakan nasabah bank yang gagal akan memiliki akses ke semua simpanan mereka mulai Senin (13/3) dan menyiapkan fasilitas baru untuk memberi bank akses ke dana darurat. Bank sentral AS atau Federal Reserve (Fed) juga mempermudah bank untuk meminjam darinya dalam keadaan darurat.
Terlepas dari langkah-langkah memberikan beberapa bantuan untuk perusahaan SVB dan pasar global, kekhawatiran tentang risiko perbankan yang lebih luas tetap ada. Ini menimbulkan keraguan apakah Fed akan tetap dengan rencananya untuk kenaikan suku bunga yang agresif.
Rupiah pada pagi hari dibuka menurun ke posisi Rp 15.391 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp 15.345 per dolar AS hingga Rp 15.391 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat menguat ke posisi Rp 15.364 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 15.418 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






