Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Menguat Ditopang Kebijakan Fed yang Tak Agresif

Penulis : Grace El Dora
24 Mar 2023 | 11:47 WIB
BAGIKAN
Petugas menghitung uang dolar Amerika Serikat dan uang rupiah di salah satu kantor cabang bank di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc)
Petugas menghitung uang dolar Amerika Serikat dan uang rupiah di salah satu kantor cabang bank di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan menguat, seiring bank The Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan kebijakan moneter yang tidak terlalu agresif.

Menurut pantauan Antara, rupiah pada Jumat (24/3) pagi dibuka naik 176 poin atau 1,15% ke posisi Rp 15.169 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.345 per dolar AS.

“Rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS karena The Fed mengindikasikan kebijakan pengetatan yang tidak terlalu agresif, pada pengumuman keputusan kebijakan moneternya di Kamis dini hari kemarin,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra, Jumat.

ADVERTISEMENT

Ariston menuturkan pasar sekarang berekspektasi mungkin suku bunga acuan AS tidak akan dinaikkan pada rapat berikutnya dan mungkin hanya naik satu kali lagi tahun ini.

Fed menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin (bps) pada Rabu (22/3). Tetapi bank sentral itu juga menghilangkan bahasa tentang “peningkatan yang sedang berlangsung” yang diperlukan untuk mendukung “beberapa kenaikan tambahan”.

Kenaikan suku bunga Fed penting, mengingat pasar keuangan telah bergolak oleh kepercayaan yang goyah terhadap bank-bank secara global. Ini menyusul penarikan dana besar-besar di Silicon Valley Bank (SVB) AS dua minggu lalu dan kejatuhan mendadak Credit Suisse di Swiss.

Menurut Ariston, krisis perbankan di AS menjadi faktor dari kebijakan yang tidak agresif tersebut. Tiga bank di Amerika Serikat (AS) ditutup yakni SVB, Silvergate Bank, dan Signature Bank.

Tapi di sisi lain, krisis perbankan itu memicu kehati-hatian pelaku pasar untuk masuk ke aset berisiko. Pasar masih mencermati perkembangan krisis tersebut, apakah pemerintah yang bersangkutan bisa mengatasinya atau krisis malah menyebar ke berbagai negara.

“Kehati-hatian ini bisa mendorong pelemahan aset berisiko seperti rupiah,” ujarnya.

Ia memperkirakan kurs rupiah berpeluang menguat ke arah Rp 15.300 per dolar AS dengan potensi resisten di sekitar Rp 15.380 per dolar AS.

Pada Selasa (21/3) rupiah ditutup naik 15 poin atau 0,10% ke posisi Rp 15.345 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.360 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia