Jumat, 15 Mei 2026

RI Masih Kebanjiran Dana Asing, di Pasar SBN Deras

Penulis : Arnoldus Kristianus
26 Mar 2023 | 20:26 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi investasi.
Ilustrasi investasi.

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) mencatat, secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 21 Maret 2023, tercatat aliran modal asing masuk bersih (capital inflow) di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 41,98 triliun dan pasar saham senilai Rp 1,07 triliun.

“Selama tahun 2023, berdasarkan data setelmen sampai dengan 21 Maret 2023, nonresiden beli neto Rp 41,98 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 1,07 triliun di pasar saham,” ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan tertulis, yang dikutip pada Minggu (26/3/2023).

Namun, jika dilihat dalam periode 20-21 Maret 2023, tercatat aliran modal asing keluar bersih (capital outflow) sebesar Rp 140 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas nonresiden jual neto Rp 50 miliar di pasar SBN dan Rp 90 miliar di pasar saham.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, imbal hasil (yield) SBN Indonesia tenor 10 tahun stabil di level 6,88%. Level yield surat utang Indonesia tersebut lebih menarik dan jauh dari yield surat utang Amerika Serikat atau UST Treasury Note tenor 10 tahun yang turun ke level 3,427%.

Sedangkan premi risiko investasi (credit default swap/CDS) Indonesia 5 tahun naik ke 104,21 bps per 23 Maret 2023 dari 103,66 bps per 17 Maret 2023. Nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp 15.140 per dolar AS pada Jumat (24/3/2023).

“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” kata Erwin.

Sementara itu, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, aliran modal asing yang keluar dalam seminggu terakhir tidak terlepas dari beberapa hal.

Pertama, isu di pasar keuangan yang tidak begitu baik. Dalam satu pekan terakhir, isu yang melibatkan bank di Amerika Serikat selalu dikaitkan dengan efek domino yang berpotensi muncul dari krisis bank di Amerika Serikat dan ditambah kasus dari Credit Suisse.

Menutup pekan lalu, Deutsche Bank juga diterpa isu mengenai krisis, meskipun belum jelas juga dari mana isu krisis dari Deutsche Bank bisa muncul. Namun, tampaknya ini turut mendorong investor menjadi panik.

“Alhasil, pilihan menempatkan dana di negara safe haven menjadi pilihan sementara waktu,” jelas Yusuf.

Kedua, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan, sehingga menjadi faktor pendorong lain keluarnya investor dari emerging market, termasuk Indonesia, karena spread yang melebar antara suku bunga The Fed dan BI.

Dia mengatakan, BI dan pemerintah sudah melakukan assesment atas situasi saat ini, apakah capital outflow hanya bersifat sementara atau berpotensi terjadi lebih lama. Hasil dari asesmen inilah yang kemudian akan mendasari BI untuk mengambil langkah kebijakan, terutama dari sisi kebijakan suku bunga.

“Pertimbangan apakah akan menaikkan atau posisi tetap dalam kebijakan suku bunganya, akan banyak ditentukan dari perkembangan situasi sentimen krisis di pasar keuangan saat ini,” ujarnya.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 59 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 9 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia