Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Menguat, Pasar Ekspektasi Pengetatan Moneter AS Berakhir

Penulis : Grace El Dora
28 Mar 2023 | 12:48 WIB
BAGIKAN
Petugas menunjukkan uang dolar Amerika Serikat (AS) dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT. Bank Mandiri Persero Tbk, Jakarta pada 31 Januari 2023. (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom)
Petugas menunjukkan uang dolar Amerika Serikat (AS) dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT. Bank Mandiri Persero Tbk, Jakarta pada 31 Januari 2023. (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal perdagangan Selasa (28/3) menguat, seiring ekspektasi pasar akan berakhirnya pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS).

Menurut pantauan Antara, rupiah pada Selasa pagi naik 48 poin atau 0,32% ke posisi Rp 15.115 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.163 per dolar AS.

“Hari ini masih akan tetap stabil, dengan ada peluang untuk menguat,” kata ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, Selasa.

ADVERTISEMENT

Rully mengatakan potensi penguatan kurs rupiah dipengaruhi dari sisi global, di mana indeks dolar AS melemah karena ekspektasi akan segera berakhirnya pengetatan moneter di AS.

Federal Reserve AS (Fed) pada Rabu (22/3) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) seperti yang diharapkan, tetapi mengambil sikap hati-hati terhadap prospek karena gejolak sektor perbankan. Namun, Gubernur Fed Jerome Powell tetap membuka pintu untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut jika perlu.

Pasar memperkirakan sekitar 55% peluang Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada Mei 2023 dan mengantisipasi penurunan suku bunga pada awal Juli 2023.

Pernyataan itu menyebutkan pihaknya berada di ambang menghentikan kenaikan suku bunga. Tetapi Powell dalam konferensi persnya mengatakan bank sentral akan melakukan “cukup” untuk menjinakkan inflasi dan meningkatkan prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan.

Sementara di sisi lain, Bank Sentral Eropa (ECB) dan bank sentral Inggris (BoE) masih akan lebih lama melakukan pengetatan moneter karena inflasi masih sangat tinggi. Inflasi di Inggris mencapai 10,4%, di Uni Eropa 8,5% per Februari 2023, sementara inflasi AS 6% year on year (YoY).

“Sementara dari dalam negeri, kondisi cukup stabil, dengan inflasi yang masih terjaga,” ujarnya.

Rully memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp 15.115 per dolar AS hingga Rp 15.170 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia