Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Rilis Data Inflasi AS

Penulis : Grace El Dora
11 Apr 2023 | 12:12 WIB
BAGIKAN
Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Pusat BNI, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/ama)
Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Pusat BNI, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/ama)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal perdagangan Selasa (11/4) melemah, seiring pasar menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Rupiah yang dipantau dari Antara pada Selasa dibuka turun 31 poin atau 0,20% ke posisi Rp 14.933 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.902 per dolar AS.

“Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah masih berpeluang untuk mengalami apresiasi di kisaran 14.890 per dolar AS sampai Rp 14.945 per dolar AS,” kata ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, Selasa.

ADVERTISEMENT

Rully memandang sentimen dari global masih akan mendominasi pergerakan rupiah hari ini. Data inflasi AS akan diumumkan besok. Pasar memperkirakan inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Maret 2023 akan turun signifikan dari 6% menjadi 5,2%.

Data inflasi tersebut akan menjadi pertimbangan arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (Fed) terkait suku bunga acuannya.

Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi ke 5,25% pada Mei, lalu setelah datar sampai akhir tahun lalu.

Sementara dari dalam negeri, rilis data cadangan devisa Indonesia memberi kepercayaan kepada investor bahwa Bank Indonesia (BI) memiliki cukup valas untuk melakukan stabilisasi ke depan.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2023 mencapai US$ 145,2 miliar, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Februari 2023 sebesar US$ 140,3 miliar.

Peningkatan posisi cadangan devisa pada Maret 2023 antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Selain itu, Rully menuturkan pasar juga masih menunggu data neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan pekan depan.

Pada Senin (10/4) rupiah ditutup menguat 11 poin atau 0,07% ke posisi Rp 14.902 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.913 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia