Rupiah Merosot, Pasar Tunggu Risalah FOMC AS
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal perdagangan Rabu (12/4) merosot. Pasar kini menunggu risalah Federal Open Market Committee (FOMC) atau rapat dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan suku bunga acuannya.
Kurs rupiah yang dipantau pada Rabu dibuka melemah tiga poin atau 0,02% ke posisi Rp 14.889 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.886 per dolar AS.
“Rupiah masih berpotensi menguat namun terbatas. Investor wait and see menantikan data inflasi AS dan risalah FOMC malam nanti,” kata analis DCFX Futures Lukman Leong, Rabu.
Lukman mengatakan inflasi AS secara year on year (YoY) diperkirakan akan melambat ke 5,2% dari 6%, menyebabkan dolar AS tertekan.
Sementara itu, belum ada ekspektasi pada FOMC malam ini. Namun Federal Reserve (Fed) diperkirakan akan bersikap lebih dovish terkait kebijakan suku bunga acuan dari sebelumnya.
Dari domestik, investor menantikan data penjualan ritel Indonesia pada Februari 2023 yang terus menurun dalam enam bulan terakhir. Namun apabila data ritel bisa lebih baik, maka rupiah berpotensi melanjutkan penguatan.
Lukman menuturkan penguatan rupiah belakangan ini didukung oleh faktor domestik dengan permintaan kuat Surat Berharga Negara (SBN) terutama dari asing, sehingga aliran dana asing terus berlanjut ke pasar domestik.
Ketertarikan investor berinvestasi di pasar keuangan domestik dipengaruhi oleh data ekonomi Indonesia yang bagus dan pertumbuhan yang kuat, suku bunga yang relatif tinggi, ekspektasi akan kenaikan besar pada cadangan devisa dengan revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor.
Pada triwulan IV-2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tetap tinggi yakni 5,01% secara YoY di tengah pertumbuhan ekonomi global yang dalam tren melambat.
Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan Indonesia secara keseluruhan tahun lalu tercatat 5,31% secara YoY. Angka ini jauh meningkat dari capaian tahun sebelumnya sebesar 3,7% secara YoY.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2023 diprakirakan tetap kuat pada kisaran 4,5% hingga 5,3%. Ini akan didorong oleh peningkatan permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi.
Selain itu, aliran modal asing masuk bersih mencapai Rp 4,23 triliun di pasar keuangan domestik selama periode 3-5 April 2023. Aliran modal asing masuk tersebut berasal dari pasar SBN senilai Rp 2,13 triliun dan pasar saham sebesar Rp 2,10 triliun.
Lukman memperkirakan rupiah berpeluang bergerak di kisaran Rp 14.850 per dolar AS hingga Rp 15.000 per dolar AS.
Pada Selasa (11/4) rupiah ditutup meningkat 16 poin atau 0,11% ke posisi Rp 14.886 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.902 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






