Jumat, 15 Mei 2026

Indihome Masuk Telkomsel, EBITDA Malah Turun Dalam

Penulis : Muawwan Daelami
14 Apr 2023 | 06:00 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi IndiHome. (ist)
Ilustrasi IndiHome. (ist)

JAKARTA, investor.id - Setelah dipisah (spin-off) PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ke PT Telkomsel, Indihome diprediksi membukukan penurunan EBITDA menjadi Rp 4,6 triliun tahun 2023, dibandingkan 2022 sekitar Rp 14 triliun. Sebab, Indihome harus mengeluarkan biaya untuk menggunakan jaringan Telkom.

Berdasarkan laporan riset Mandiri Sekuritas (Mansek), belum lama ini, Telkom dan Telkomsel telah meneken sejumlah perjanjian, seperti wholesale service agreement (WSA). Dengan begini, Telkomsel tetap dapat menggunakan jaringan Telkom, termasuk untuk Indihome.

Namun, Telkomsel harus mengeluarkan biaya Rp 19,7 triliun untuk menggunakan jaringan Telkom. Jumlah ini setara 61% pendapatan Indihome, sehingga bakal menggerus margin EBITDA. Ke depan, manajemen memprediksi porsi WSA ke pendapatan Indihome turun menjadi 53% selama 2026-2027.

ADVERTISEMENT

Adapun tahun ini, biaya WSA, tulis Mansek, bakal menggerus EBITDA Indihome menjadi Rp 4,6 triliun, setara 16% margin EBITDA, turun dalam dibandingkan 2020-2022 berkisar 79-82%. “Seiring dengan itu, EV/EBITDA Indihome tahun ini diestimasi sebesar 12,7 kali,” tulis Mansek.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mencatat, aset Indihome sebesar Rp 16 triliun masih berada di Telkom, sehingga Indihome harus menyewa kembali (lease back) aset itu dalam skema WSA. Aset ini terdiri atas fixed broadband core service provision (TSA 1) and IT system service provision (TSA 2).

Ini sejalan dengan rencana Telkom mengonsolidasikan aset infrastruktur ke dalam satu entitas bernama InfraCo. Implementasi ini ditargetkan berlangsung semester II tahun ini. Ini akan mendiversifikasi pendapatan Telkom, karena perseroan juga bisa menyewakan jaringan ini ke operator lain.

Di sisi lain, berdasarkan kalkulasi Mirae, Telkomsel akan diuntungkan oleh kenaikan pendapatan dari masuknya Indihome. Valuasi perusahaan ini juga membengkak menjadi Rp 380 triliun, 89% dari market cap Telkom, dengan asumsi harga saham Rp 4.300. 

Perubahan Pencatatan

SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza menjelaskan, secara umum, pencatatan profitabilitas Indihome akan berubah. Sebab, sebelum spin-off, beban penyediaan jaringan Indihome dicatat sebagai belanja modal (capex) yang tidak mengurangi EBITDA.

Namun, dia menerangkan, setelah IndiHome berada dalam Telkomsel, penyediaan jaringan dipenuhi melalui layanan komersial wholesale oleh Telkom. "Dengan demikian, di Telkomsel, hal tersebut dicatat sebagai biaya operasional (opex) yang mengurangi EBITDA," terang Reza kepada Investor Daily, Kamis (13/4/2023).

Dia menuturkan, penyediaan layanan wholesale oleh Telkom kepada Telkomsel juga mempertimbangkan aspek komersial, sesuai dengan penerapan prinsip arsm-length antara kedua entitas perusahaan yang berbeda. Hal ini akan memberikan nilai tambah kepada Telkom Group, karena adanya kepastian arus kas yang diterima entitas Telkom dari Telkomsel.

Sebelumnya, Telkom menandatangani perjanjian pemisahan bersyarat (conditional spin off agreement) dengan PT Telkomsel terkaiat restrukturisasi korporasi dan transformasi bisnis Indihome. Berdasarkan pengumuman resmi perseroan, Kamis (6/4/2023), nilai segmen usaha Indihome yang dipisahkan mencapai Rp 58,24 triliun. Hal ini sesuai perjanjian pemisahan bersyarat.

“Sebagai bagian dari rencana pemisahan ini, Telkom dan Telkomsel juga telah menandatangani beberapa perjanjian komersial lain yang terkait, yaitu suatu wholesale agreement terkait dengan penyediaan infrastruktur, TSA 1 terkait dengan penyediaan layanan fixed broadband core, dan TSA 2 terkait dengan penyediaan layanan IT system,” tulis manajemen Telkom dalam pengumuman tersebut.

Pemisahan tersebut akan membuat kepemilikan saham Telkom di Telkomsel meningkat dari 65% menjadi 69,9%, sedangkan kepemilikan saham Singtel turun dari 35% menjadi 30,1%.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 52 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia