Jumat, 15 Mei 2026

Kenaikan FFR Bakal Topang Kenaikan IHSG

Penulis : Zsazya Senorita
4 Mei 2023 | 04:20 WIB
BAGIKAN
Pengunjung melintas didepan monitor saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)
Pengunjung melintas didepan monitor saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)

JAKARTA, investor.id – Kenaikan suku bunga acuan The Fed (Federal Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) diproyeksi akan menahan koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) lebih lanjut. Pasalnya, kenaikan tersebut sudah sesuai ekspektasi pelaku pasar sehingga diharapkan meredam gejolak di pasar modal.

“Memang menurut ekspektasi pelaku pasar The fed akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis points (bsp) sehingga menjadi 5,25%. Dengan demikian, tekanan profit taking pasar saham global mereda,” kata Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta, Nafan kepada Investor Daily, Rabu (3/5/2023).

Kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), anjlok 50,58 poin (0,74%) ke level 6.812,7. Dalam satu hari, IHSG bergerak di rentang 6.776,9-6.865,6 dengan nilai transaksi Rp 9,28 triliun.

Sejumlah sektor saham seperti energi turun 1,45%, sektor material dasar -1,09%, sektor industri -1,33%, dan transportasi -1,16%. Sedangkan penguatan melanda saham sektor properti 0,46%, sektor konsumer primer 0,27%, dan sektor konsumer non-primer 1,17%.

ADVERTISEMENT

Seiring penurunan IHSG, investor asing tercatat merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 131,11 miliar.

Menurut Nafan, banyak faktor memengaruhi penurunan IHSG kemarin. Dari faktor eksternal, pelaku pasar bersikap wait and see dalam menghadapi Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan menentukan tingkat suku bunga acuan. Faktor lainnya adalah dinamika gejolak perbankan global di Amerika Serikat (AS) yang efeknya diproyeksi bisa berlanjut.

“Faktor berikutnya dari eksternal adalah dinamika politik di kongres AS yang belum menetapkan kenaikan pagu utang pemerintah. Sebab, keuangan yang kurang kondusif menyebabkan potensi default di AS pada 1 Juni nanti, sehingga pasar modal terseret melemah,” imbuh dia.

Berikutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang juga menyebabkan probabilitas resesi disebut-sebut akan berdampak pada Indonesia. Namun patut disyukuri bahwa Indonesia dipercaya tidak berpotensi resesi, melainkan hanya mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. IMF memproyeksikan, perekonomian Indonesia pada 2023 berada di kisaran 5,3%.

“Faktor terakhir, kalau dilihat dari data inflasi inti, Indonesia mengalami penurunan. Ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif melandai atau menurun per April lalu padahal kita menghadapi momen puasa dan lebaran,” sambung Nafan.

Apresiasi

Financial Expert Ajaib Sekuritas Chisty Maryani meyakini, IHSG terapresiasi dalam satu bulan ini meski ketidakpastian global masih cukup tinggi. Mengingat, pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi sejumlah katalis eksternal, di antaranya hasil FOMC The Fed Mei 2023 terhadap kebijakan suku bunga acuan.

Dampak kebijakan moneter AS yang cukup ketat sebelumnya menyebabkan sejumlah bank regional mengalami krisis likuiditas. Sehingga pelaku pasar global sangat menantikan hasil FOMC The Fed pada Mei 2023 mendatang.

“Apabila The Fed tetap menaikan suku bunga 25 bps, saya rasa ini telah diekspektasi pelaku pasar sehingga dampaknya tidak terlalu menekan pergerakan pasar saham global. Namun, jika The Fed menahan kenaikan suku bunga acuannya atau cenderung lebih dovish, tentu dapat menjadi katalis yang cukup positif,” papar Chisty.

Di sisi lain, masuknya investasi asing ke pasar modal Indonesia masih cukup besar. Adapun foreign net buy ke pasar saham dalam negeri sejak awal tahun hingga 28 April 2023 tercatat mencapai Rp 18,31 triliun (all market).

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia