Tak Bukukan Pendapatan, Emiten Ini Dipantau Khusus, Sahamnya Kena Suspensi 1,5 Tahun
JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus terbaru yang berlaku efektif 29 Mei 2023.
“Bursa menetapkan daftar efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus berlaku efektif pada tanggal 29 Mei 2023,” tegas pengumuman BEI tertanggal 26 Mei 2023.
Pengumuman BEI menjelaskan bahwa penetapan itu menunjuk pada Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus dan dalam rangka memberikan perlindungan kepada investor terkait informasi fundamental dan/atau likuiditas perusahaan tercatat.
Update dari daftar teranyar adalah penambahan poin kriteria terhadap PT Aesler Grup Internasional Tbk (RONY). Dari sebelumnya hanya kriteria 7, kini ditambahkan pula kriteria 3.
Kriteria 3 artinya tidak membukukan pendapatan atau tidak terdapat perubahan pendapatan pada laporan keuangan auditan dan/atau laporan keuangan interim terakhir dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya.
Sedangkan kriteria 7 adalah memiliki likuiditas rendah dengan kriteria nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian sahm kurang dari 10.000 saham selama 6 bulan terakhir di pasar reguler.
Sementara itu, RONY tak mencatatkan pendapatan dalam laporan keuangan kuartal I-2023. Namun terdapat beban operasi Rp 455,94 juta. Kas dan bank akhir tahun (periode hingga 31 Maret 2023) Rp 198,6 juta. Jumlah aset Rp 5,89 miliar dan liabilitas Rp 1,79 miliar.
Pada tahun 2022, Aesler masih mencatatkan pendapatan Rp 7,82 miliar, tapi turun dari 2021 yang jumlahnya Rp 8,62 miliar. Perseroan membukukan rugi bersih tahun berjalan Rp 27,36 miliar.
Saham Disuspensi
Dalam situs resmi Aesler dijelaskan bahwa perusahaan adalah sebuah grup konsultan arsitektur dan teknik global yang menyediakan solusi terintegrasi melalui berbagai layanannya yang mencakup perencanaan perkotaan, desain arsitektur, manajemen konstruksi, dan layanan terkait lainnya.
Dari data BEI terungkap bahwa Aesler baru mencatatkan sahamnya pada 9 April 2020. Saham RONY kena suspensi BEI sejak 27 Desember 2021 dan belum dibuka hingga pedagangan Jumat (26/5/2023) kemarin. Suspensinya sudah berlangsung selama hampir 1,5 tahun.
Kala itu, BEI menilai perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham RONY karena terjadinya peningkatan harga kumulatif. Saham RONY kena suspensi ketika berada di harga Rp 800. Padahal di 14 Desember 2021, harganya masih Rp 280.
Berikut daftar lengkap efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus berlaku efektif 29 Mei 2023:
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






