Kamis, 14 Mei 2026

Saham Pilihan Teratas pada Semester II, GOTO Masuk?

Penulis : Muawwan Daelami
7 Jun 2023 | 23:58 WIB
BAGIKAN
Nasabah melintasi layar pergerakan saham. (B-Universe Photo/David Gita Roza)
Nasabah melintasi layar pergerakan saham. (B-Universe Photo/David Gita Roza)

Unggul di ASEAN

Sementara itu, Mandiri Sekuritas memproyeksikan pasar modal Indonesia masih akan menjadi pasar yang menarik bagi para pelaku pasar. Hal ini ditopang oleh tiga faktor utama.

Head Equity Research, Strategy, Consumer Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menyebut, ketiga faktor itu adalah likuditas yang menunjukkan perbaikan, kemudian sektor yang lebih diversify, dan ketahanan risiko eksternal pasar modal Indonesia yang jauh lebih baik sehingga stabilitasnya terjaga dengan baik.

Dari sisi likuiditas misalnya, Joezer menerangkan bahwa selama tiga tahun terakhir, pasar Indonesia relatif likuid berkat semaraknya aksi korporasi berupa Initial Public Offering (IPO) saham.

ADVERTISEMENT

"IPO di atas US$ 500 juta di Indonesia sudah terjadi. Tahun 2021 ada dua, tahun 2022 ada dua, dan tahun ini ada tiga. Jadi, kalau kita lihat likuiditas pasarnya sudah improve karena deepening-nya sudah berjalan lebh baik," ucap Joezer.

Dengan begitu, secara positioning di ASEAN, pasar modal Indonesia seharusnya lebih baik di mata investor asing. Ditambah, dari sisi kenaikan turn over pasar modal Indonesia juga tergolong drastis sekitar 21% daripada indeks-indeks lain di Asean saat pre-Covid. "Saat ini delivering pasar kita bisa mencapai US$ 607 juta per hari dalam tiga bulan terakhir," tuturnya.

Capaian tersebut, menurut dia, merupakan daya tarik pasar modal Indonesia. Terlebih, jika pasar di negara berkembang mulai outperform dari negara maju saat US stop tightening dan The Fed mulai menurunkan suku bunga.

Atas pertimbangan itulah, Joezer meyakini pasar modal Indonesia akan jauh lebih menarik dibandingkan pasar negara-negara lainnya. "Jadi, tiga faktor tersebut kita tinggal tunggu saja kapan US stop tightening. Karena tanda-tandanya sudah mulai terlihat dan kita harapkan pivotnya gak akan langsung dan agresif. Tapi, dalam kurun waktu enam sampai 12 bulan ke depan, bisa saja itu terjadi. Karena itu, pelaku pasar saya sarankan untuk tetap menunggu," ujar Joezer.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 13 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 30 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia