Emiten Multifinance Untung Rp 1,4 Triliun, Siapa Terbesar?
Per Maret, piutang pembiayaan BFI Finance tumbuh 40,7% (yoy) menjadi Rp 21,57 triliun atau menjadi salah satu pertumbuhan tercepat di antara emiten multifinance lainnya. Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono meyakini kinerja positif ini akan berlanjut hingga akhir tahun.
"BFI Finance terus melanjutkan tren positif pada tahun ini. Kami optimis dapat melanjutkan tren ini dengan tetap menjaga kualitas aset yang baik dan pencadangan yang memadai, sambil melanjutkan proses transformasi bisnis dan mitigasi risiko melalui tata kelola yang baik," jelas Sudjono melalui keterangannya, baru-baru ini.
Berikutnya, Adira Finance (ADMF) yang berhasil membukukan laba bersih Rp 417,04 miliar atau tumbuh 36,93 (yoy) pada kuartal I-2023. Perolehan ini didukung keberhasilan perusahaan menekan beban-beban menjadi sebesar Rp 1,7 triliun atau naik tipis 0,70% (yoy).
Baca Juga:
Ini Fokus Hibank Besutan BNIDi pos pendapatan, Adira Finance meraup Rp 2,23 triliun atau meningkat 7,27% (yoy). Hasil tersebut pun tidak menyurutkan peningkatan skala bisnis perusahaan, dimana piutang pembiayaan neto tercatat tumbuh 23,93 (yoy) menjadi Rp 24,82 triliun. Adapun semua lini bisnis tercatat tumbuh, mulai dari pembiayaan mobil, motor, barang durable, baik konvensional maupun berbasis syariah.
Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa masih enggan membeberkan target laba perusahaan tahun ini. Meski begitu, sejumlah inisiatif telah disiapkan untuk terus memacu bisnis tetap tumbuh baik hingga akhir tahun.
"Dengan pertumbuhan di kuartal I-2023 yang menggembirakan ini, kami perlu mempersiapkan engine untuk growth. Salah satunya adalah sumber pendanaan yang perlu diperbanyak. Untuk mengimbangi pertumbuhan bisnis, mungkin gearing ratio yang 1 kali akan menjadi di kisaran 2 kali," kata Gani saat ditemui di Jakarta, belum lama ini.
Tantangannya, kata dia, selepas kuartal I-2023, multifinance akan dihadapkan pada kondisi biaya dana (cost of fund/CoF) yang tinggi. Fenomena ini akan berimbas pada penyusutan margin bunga yang diperoleh perusahaan. Kendati demikian, tergerusnya margin bunga tidak ekstrem seperti yang diperkirakan sebelumnya.
"Kalau The Fed menaikkan suku bunganya secara luar biasa, maka biaya dana akan naik drastis. Namun, dengan inflasi yang terkendali, BI mungkin akan memandang ini untuk dapat menahan dampak lebih dalam. Para penyalur pinjaman juga istilahnya tidak gila-gilaan mematok bunga tinggi ke kita," jelas Gani.
Selanjutnya, Mandala Finance (MFIN) yang mencetak laba bersih Rp 149,57 miliar, namun terkontraksi 7,6% (yoy) pada kuartal I-2023. Seluruh pos beban yang bergerak naik menjadi faktor utama. Total beban perusahaan naik 24,09% (yoy) menjadi Rp 385,76 miliar.
Sedangkan total pendapatan tumbuh 10,93% (yoy) menjadi Rp 574,3 miliar. Perolehan ini relatif tinggi dibandingkan piutang pembiayaan yang hanya naik 2,37% (yoy) menjadi Rp 4,86 triliun. Tertahannya pertumbuhan ini ditengarai disebabkan masih tersisa dampak pandemi untuk para konsumen pembiayaan roda dua.
Adapun emiten keempat yang turut mencetak perolehan laba cukup besar yakni Clipan Finance (CFIN). Pada kuartal I-2023, laba bersih Clipan Finance mencapai Rp 105,08 miliar atau terbang 6.529,8% (yoy) dari periode sebelumnya sebesar Rp 1,59 miliar.
Perolehan tersebut didukung oleh pendapatan perusahaan yang meningkat 18,43% (yoy) pada kuartal I-2023 menjadi Rp 426,88 miliar. Sementara, total beban berhasil ditekan sampai dengan 18,66% (yoy) menjadi Rp 292,13 miliar, seiring perbaikan dari sisi aset keuangan.
Dari sisi bisnis, piutang pembiayaan Clipan Finance tercatat melesat 25,62 menjadi Rp 8,04 triliun per kuartal I-2023. Lini pembiayaan kendaraan bermotor ikut mendongkrak perolehan ini, disamping pembiayaan barang berupa alat berat dan pembiayaan investasi lainnya.
Mengacu laporan tahunan Clipan Finance, perusahaan membidik penyaluran pembiayaan baru tahun 2023 mencapai Rp 8,03 triliun, tumbuh 8,45% dari realisasi tahun 2022 sebesar Rp 7,41 triliun. Dengan aspirasi tersebut, pendapatan bersih dipatok Rp 1,66 triliun atau naik 10%. Begitu juga imbasnya ke laba bersih yang dicanangkan mencapai Rp 339,17 miliar atau naik 9,15% di tahun ini.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






