Indika Energy (INDY) Buka-bukaan Kinerja, Batu Bara Dibahas Rinci!
Indika Energy (INDY) mencatatkan penurunan laba bersih 55,2% jadi US$ 89,8 juta pada semester I-2023, dari sebelumnya US$ 200,7 juta di periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba Inti tercatat sebesar US$ 114,4 juta.
Koreksi laba sejalan dengan raihan pendapatan pada semester pertama 2023 ynag juga susut 13,7% menjadi US$ 1.673,2 juta.
Azis Armand menjelaskan, penurunan pendapatan berasal dari menurunnya target volume produksi FY23 Kideco Jaya Agung (Kideco) menjadi 31 juta ton akibat berbagai sebab di antaranya yakni sesuai persetujuan pemerintah untuk menurunkan produksi, curah hujan yang tinggi, dan turunnya produktivitas kontraktor yang berdampak pada operasional pertambangan batu bara di Kideco.
Azis merinci, pada periode tersebut, volume penjualan batu bara Kideco turun sebesar 11,7% menjadi 15 juta ton. Dari volume tersebut, Kideco memasarkan 4,4 juta ton atau 29% di antaranya untuk pasar domestik, atau tetap melebihi domestic market obligation (DMO) batu bara sebesar 25%.
Sementara itu, volume penjualan batu bara untuk pasar ekspor mencapai 10,6 juta ton dengan negara tujuan China, India, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Akan tetapi, Kideco mencatat harga jual batu bara yang relatif stabil di US$ 82,3 per ton pada 6M 2023 dibandingkan penurunan harga rata-rata batu bara ICI-4 yang digunakan sebagai benchmark yaitu sebesar 17,9% menjadi US$ 70,5 per ton pada 6M 2023 dari US$ 85,9 per ton pada 6M 2022.
Selanjutnya pada unit anak usaha, Indika Indonesia Resources mencatat penurunan pendapatan sebesar 27,0% menjadi US$ 275,4 juta pada 6M 2023 dari periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 377,3 juta, didorong oleh penurunan volume perdagangan batu bara menjadi 1,7 juta ton dan penurunan harga jual batu bara sebesar 1,9% menjadi US$ 72,6 per ton.
Akan tetapi, pendapatan Multi Tambang Jaya Utama (MUTU) meningkat 19,2% menjadi US$ 146,8 juta yang didorong oleh kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 54,1% menjadi 1 juta ton dengan harga jual rata-rata batu bara sebesar US$ 148,1 per ton.
Kemudian, Tripatra mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 5,1% menjadi US$ 127,2 juta pada semester pertama 2023 akibat dari menurunnya pendapatan dari proyek BP Tangguh sebesar 12,2% menjadi US$ 105,0 juta.
Namun demikian, perusahaan logistik terintegrasi Interport Mandiri Utama (Interport) mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 239,7% menjadi US$ 57,0 juta pada 6M 2023, di mana US$ 13,9 juta di antaranya berasal dari usaha logistik laut Cotrans sebesar US$ 34,2 juta dan terminal penyimpanan bahan bakar Kariangau Gapura Terminal Energi (KGTE) sebesar US$ 13,9 juta pada periode yang sama.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






