Misi di Balik Rencana Merger Pelita Air ke Grup Garuda (GIAA)
4 Sep 2023 | 11:01 WIB
JAKARTA, investor.id - Kementerian BUMN menyatakan rencana merger Pelita Air (anak usaha Pertamina) ke Grup Garuda Indonesia (GIAA) masih terus digodok.
Usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR pekan lalu, Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan bahwa rencana merger maskapai pelat merah diharapkan rampung tahun ini atau awal tahun depan. Namun, pemangku kepentingan terkait, masih harus melihat pembukuan masing-masing perusahaan sebelum melakukan penggabungan maskapai ini.
“Nanti Garuda tetap di premium, lalu Citilink dan Pelita merger. Tetapi kami lihat dulu pembukuannya seperti apa,” ujar Erick.
Dia menambahkan, jumlah pesawat di Indonesia masih kurang dari 10% jumlah pesawat di Amerika yang sekitar 7.200 unit. Indonesia hanya memiliki sekitar 550 armada.
Bila Pelita Air melebur menjadi satu bersama Citilink di bawah induk usaha Garuda Indonesia Group, jumlah ‘burung besi’ yang dioperasikan BUMN terhitung baru mencapai 140 unit. Ia kemudian menjelaskan sejarah keberadaan Pelita Air, yang awalnya berfungsi sebagai ‘pemain cadangan’ bila Garuda Indonesia pailit.
“Dahulu, Garuda (ada) 170 (pesawat), jadi masih kurang. Ya kita harus sinergilah. Nggak mungkin punya dua maskapai penerbangan di bawah BUMN. Buat apa?” tutur Erick.
Sementara itu, bila rencana merger berhasil direalisasikan, pemerintah berharap jumlah pesawat yang dioperasikan BUMN bisa meningkat, paling tidak kembali ke kisaran 170 unit. Erick berpendapat, butuh dua sampai tiga tahun untuk menuju jumlah itu lagi, paling cepat pada 2026.
Sebelumnya memang sudah ditegaskan, rencana penggabungan ketiga maskapai pelat merah tersebut juga merespons krisis pesawat yang kini dihadapi Indonesia. Menurut Erick, Indonesia kekurangan sekitar 200 pesawat setelah membandingkan dengan jumlah pesawat di Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat dengan populasi 300 juta dan rata-rata GDP (pendapatan per kapita) mencapai US$ 40 ribu, mengerahkan sebanyak 7.200 pesawat untuk melayani rute domestik.
Sedangkan Indonesia dengan populasi 280 juta penduduk dan rata-rata GDP US$ 4.700 hanya mempunyai 550 pesawat. Karena itu, Erick menyatakan, Indonesia membutuhkan tambahan sebanyak 729 pesawat dari jumlah pesawat saat ini. "Jadi, perkara logistik kita ini belum sesuai," ujar Erick dalam keterangannya.
Swasta
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





