Kamis, 14 Mei 2026

Misi di Balik Rencana Merger Pelita Air ke Grup Garuda (GIAA)

Penulis : Thresa Sandra Desfika / Zsazya Senorita / Ghafur Fadillah
4 Sep 2023 | 11:01 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi pesawat Garuda (GIAA). Ist
Ilustrasi pesawat Garuda (GIAA). Ist

JAKARTA, investor.id - Kementerian BUMN menyatakan rencana merger Pelita Air (anak usaha Pertamina) ke Grup Garuda Indonesia (GIAA) masih terus digodok.

Usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR pekan lalu, Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan bahwa rencana merger maskapai pelat merah diharapkan rampung tahun ini atau awal tahun depan. Namun, pemangku kepentingan terkait, masih harus melihat pembukuan masing-masing perusahaan sebelum melakukan penggabungan maskapai ini.

“Nanti Garuda tetap di premium, lalu Citilink dan Pelita merger. Tetapi kami lihat dulu pembukuannya seperti apa,” ujar Erick.

Dia menambahkan, jumlah pesawat di Indonesia masih kurang dari 10% jumlah pesawat di Amerika yang sekitar 7.200 unit. Indonesia hanya memiliki sekitar 550 armada.

ADVERTISEMENT

Bila Pelita Air melebur menjadi satu bersama Citilink di bawah induk usaha Garuda Indonesia Group, jumlah ‘burung besi’ yang dioperasikan BUMN terhitung baru mencapai 140 unit. Ia kemudian menjelaskan sejarah keberadaan Pelita Air, yang awalnya berfungsi sebagai ‘pemain cadangan’ bila Garuda Indonesia pailit.

“Dahulu, Garuda (ada) 170 (pesawat), jadi masih kurang. Ya kita harus sinergilah. Nggak mungkin punya dua maskapai penerbangan di bawah BUMN. Buat apa?” tutur Erick.

Sementara itu, bila rencana merger berhasil direalisasikan, pemerintah berharap jumlah pesawat yang dioperasikan BUMN bisa meningkat, paling tidak kembali ke kisaran 170 unit. Erick berpendapat, butuh dua sampai tiga tahun untuk menuju jumlah itu lagi, paling cepat pada 2026.

Misi di Balik Rencana Merger Pelita Air ke Grup Garuda (GIAA)
Pelita Air. Ist

Sebelumnya memang sudah ditegaskan, rencana penggabungan ketiga maskapai pelat merah tersebut juga merespons krisis pesawat yang kini dihadapi Indonesia. Menurut Erick, Indonesia kekurangan sekitar 200 pesawat setelah membandingkan dengan jumlah pesawat di Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat dengan populasi 300 juta dan rata-rata GDP (pendapatan per kapita) mencapai US$ 40 ribu, mengerahkan sebanyak 7.200 pesawat untuk melayani rute domestik.

Sedangkan Indonesia dengan populasi 280 juta penduduk dan rata-rata GDP US$ 4.700 hanya mempunyai 550 pesawat. Karena itu, Erick menyatakan, Indonesia membutuhkan tambahan sebanyak 729 pesawat dari jumlah pesawat saat ini. "Jadi, perkara logistik kita ini belum sesuai," ujar Erick dalam keterangannya.

Swasta

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 13 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 30 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia