Jumat, 15 Mei 2026

Indocement (INTP) dan Semen Indonesia (SMGR) Getol Perkuat Fasilitas Hijau, Total Dana Rp 2,6 T

Penulis : Muawwan Daelami
14 Sep 2023 | 08:05 WIB
BAGIKAN
Fasilitas pengolah limbah PT Semen Indonesia Tbk di Pabrik Narogong, Jawa Barat. (mwd)
Fasilitas pengolah limbah PT Semen Indonesia Tbk di Pabrik Narogong, Jawa Barat. (mwd)

JAKARTA, investor.id – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG, dua pemain besar di industri semen, tengah getol memperkuat fasilitas hijau. Keduanya bahkan menyiapkan dana jumbo, masing-masing Rp 1 triliun dan Rp 1,6 triliun.

Tercatat, INTP menyiapkan dana sekitar Rp 1 triliun selama lima sampai enam tahun terakhir untuk membangun berbagai fasilitas bahan bakar dan bahan baku alternatif (alternative fuels and materials). Sedangkan SMGR mengalokasikan sebesar Rp 1,6 triliun untuk fasilitas berbasis ramah lingkungan. Sekretaris Perusahaan Indo cement Dani Handajani mengaku, perseroan belum berencana untuk menambah kembali investasi di sektor tersebut.

Bermodal dana Rp 1 triliun, INTP mengklaim sudah membangun beragam fasilitas seperti feeding, shredder, dan mixing untuk refuse-derived fuel (RDF) serta investasi ter baru berupa hot-disc facility. Tidak berhenti di situ, penguatan juga dilakukan Indocement dengan menggandeng perusahaan lain.

ADVERTISEMENT

Teranyar, produsen semen merek Tiga Roda ini melanjutkan kemitraan strategisnya dengan anak usaha PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yakni PT Krakatau Posco, untuk memanfaatkan produk sampingan baja seperti granulated blast furnace slag (GBFS), slag baja, sludge, dan dust sebagai pengganti batu bara. “Jadi kerja sama dengan Kr akatau Posco ini merupakan pengembangan lebih lanjut untuk menggali potensi green material lain yang bisa kami manfaatkan,” ucap Dani kepada Investor Daily baru-baru ini.

Di sisi lain, SMGR selaku Holding BUMN industri semen juga bersiap memperkuat fasilitas hijau dengan mengalokasikan dana sebesar Rp 1,6 triliun. Dana itu akan digunakan Semen Indonesia untuk membangun fasilitas pengolah limbah sebagai bahan alternatif pengganti batu bara.

Menurut SVP Sustainability Office PT Semen Indonesia Johanna Daunan, dana Rp 1,6 triliun bersumber dari hasil rights issue PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) sebesar Rp 2 triliun yang tuntas diinbrengkan kepada perseroan akhir tahun lalu.

“Dari dana itu, paling besar akan kami fokuskan untuk membangun fasilitas green zone di pabrik-pabrik milik SMGR, dan sisanya untuk pengembangan bisnis,” ujar Johanna kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Dia mengungkapkan, Semen Indonesia tengah berupaya untuk melengkapi semua pabrik perseroan dengan fasilitas green zone seperti pengolah limbah, baik limbah industri, pertanian, maupun limbah rumah tangga untuk menjadi bahan alternatif pengganti batu bara.

Atau dengan kata lain, upaya ini sekaligus menjadi inisiatif berkelanjutan Semen Indonesia yang bukan saja diarahkan pada transisi energi melalui produk derivatif, tetapi juga sebagai ikhtiar untuk menurunkan clinker factor dan menyediakan green equipment agar lebih optimal.

“Jadi, green capex sebesar Rp 1,6 triliun itu bukan untuk membangun fasilitas pengolah sampah saja,” tambah dia.

Tahun depan, Johanna melanjutkan, perseroan akan kembali mengalokasikan green (capital expenditure/capex) berkisar antara Rp 1,6-2 triliun karena sustainability merupakan bagian yang melekat dengan program perseroan.

Pabrik-pabrik SMGR yang kini sudah memiliki feeding facilities berupa RDF di antaranya Narogong, di Jawa Barat, dan pabrik Cilacap, di Jawa Tengah. Selanjutnya, perseroan akan fokus membangun feeding facilities untuk pabrik di luar Jawa seperti Tonasa di Makassar dan Pabrik Padang, Sumatera Barat.

Roadmap 2030

Director of Manufacturing Solusi Bangun Indonesia (SBI) Soni Asrul Sani juga mengungkapkan, dalam hal pemanfaatan bahan bakar dan bahan baku alternatif, SMGR sudah membuat peta jalan (roadmap) hingga 2030, sebagai komitmen perseroan mendukung upaya pemerintah untuk menekan emisi karbon.

“Kalau dilihat dari roadmap, kami akan menurunkan CO2 sekitar 27% dari 2010. Ini cukup besar, dan tentu akan mengonsumsi bahan bakar dan bahan baku alternatif lebih dari tiga juta ton untuk seluruh pabrik. Tahun lalu, kami mengonsumsi sekitar 1,6 juta ton,” imbuh Soni.

Mencermati aksi perusahaan semen memperkuat fasilitas hijau ini, menurut Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, hal itu akan berdampak positif pada kinerja saham INTP dan SMGR.

Pergerakan kedua saham tersebut juga didukung oleh kinerja bisnis yang secara fundamental solid sejalan dengan datangnya permintaan dari proyek-proyek infrastruktur dan properti. Walau demikian, saham emiten semen berpotensi tertekan oleh era suku bunga tinggi yang akhirnya menjadi pertimbangan para pelaku pasar.

“Kecuali, tahun depan muncul kebijakan soft money policy khusus untuk mengakselerasi negara-negara seperti Indonesia,” tutur Nafan kepada Investor Daily, Rabu (13/9/2023).

Menurut Nafan, strategi emiten berkode saham INTP dan SMGR dalam mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG) ini akan menjadi investasi jangka panjang yang baik bagi perseroan dan memberikan nilai tambah bagi kedua emiten. “Semisal, gasifikasi yang dilakukan para emiten semen, pastinya berdampak positif terhadap peningkatan laba bersih,” tutupnya.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 44 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia