Jumat, 15 Mei 2026

Deretan Proyek Penting Harita Nickel (NCKL), Cuan Sahamnya Bisa 50% Lebih

Penulis : Jauhari Mahardhika
8 Okt 2023 | 15:01 WIB
BAGIKAN
Salah satu fasilitas milik PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel. (Foto: Perseroan)
Salah satu fasilitas milik PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel. (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id – Ada satu hal yang menarik perhatian analis saat mengunjungi wilayah operasional PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perseroan menempatkan asetnya dengan baik. Jarak antara area pertambangan, smelter, dan pelabuhan masing-masing kurang dari 5 km.

“Itu memungkinkan NCKL meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Biaya tunai smelter NCKL adalah salah satu yang terendah dibanding pesaingnya,” tulis analis Samuel Sekuritas, Juan Harahap dan Research Associate Samuel Sekuritas, Haikal Putra Samsul dalam risetnya.

Selain itu, Harita Nickel memiliki keunggulan geografis. Lokasi tambang berada di ketinggian 50-60 meter di atas permukaan laut, di daerah pegunungan, sehingga mengurangi risiko banjir. Kemudian, tingginya permukaan air laut di sekitar wilayah tersebut memungkinkan kapal-kapal induk dapat berlabuh di pelabuhannya.

ADVERTISEMENT

Harita Nickel juga memiliki sejumlah rencana proyek masa depan. Pada kuartal III-2023, emiten berkode saham NCKL tersebut menjual 60% produk MHP (mixed hydroxide precipitate) begitu saja, dan mengonversi sisanya sebesar 40% menjadi nikel dan kobalt sulfat sebelum menjualnya. NCKL menjual kobalt sulfat pertamanya pada kuartal III-2023. “Proporsi tersebut dapat berubah di masa mendatang, tergantung fluktuasi harga nikel sulfat dan MHP,” jelas Juan dan Haikal.

Sedangkan proyek smelter berteknologi high pressure acid leach (HPAL) milik PT Obi Nickel Cobalt (ONC), anak usaha NCKL, diperkirakan memulai aktivitas produksi pada kuartal II-2024. Perlu diketahui bahwa biaya operasional smelter ONC bisa lebih tinggi dibandingkan smelter Halmahera Persada Lygend (HPL), karena smelter ONC memiliki lebih banyak pipa terpasang dibandingkan HPL.

Mengenai smelter berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), rencana pertumbuhan produksi proyek smelter PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) masih belum berubah. Proyeksinya 65 ktpa pada 2023. Selain itu, proyek RKEF PT Karunia Permai Sentosa (KPS) diperkirakan memulai kegiatan produksi pada 2025.

Potensi Cuan Saham NCKL 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 5 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 43 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 47 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia