Vale (INCO) Tahan Banting, Potensi Cuan Sahamnya Masih Tebal
JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan laba bersih sebesar US$ 52,6 juta pada kuartal III-2023, turun 25,3% (qoq) atau naik 193% (yoy). Meski demikian, laba bersih sepanjang Januari-September 2023 yang mencapai US$ 221 juta atau tumbuh 31,3% (yoy) sejalan dengan ekspektasi BRI Danareksa Sekuritas (77,1% dari perkiraan 2023). Bahkan di atas konsensus analis (82,3%).
Adapun penurunan laba bersih Vale Indonesia pada kuartal III-2023 mencerminkan penurunan harga nikel. “Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar US$ 16.204 per ton, turun 9,8% (qoq) atau turun 9,2% (yoy),” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan dalam risetnya.
Menurut dia, pendapatan Vale Indonesia selama periode Januari-September 2023 masih tumbuh 7,3% (yoy) menjadi US$ 937,9 juta, yang dibantu oleh peningkatan volume penjualan, meskipun realisasi ASP turun 5,6% (yoy).
Emiten nikel berkode saham INCO tersebut mampu menjaga margin tetap stabil di tengah penurunan harga nikel sepanjang Januari-September 2023. Sebab INCO juga berhasil menurunkan biaya tunai menjadi US$ 10.405 per ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 11.407 per ton.
Sedangkan margin kotor, margin EBITDA, dan margin bersih INCO masing-masing sebesar 30,6% (9M22: 29,7%), 41,2% (9M22: 40,8%), dan 23,6% (9M22: 19,3%).
Dari segi operasional, produksi INCO selama Januari-September 2023 tumbuh 17,6% (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kembalinya Furnace 4 pada kinerja yang optimal, setelah menjalani pembangunan kembali pada 2022. “Selain itu, produksi INCO pada kuartal III-2023 tergolong solid dengan kenaikan 6,1% (qoq), karena tidak adanya aktivitas pemeliharaan selama periode tersebut,” sebut Hasan.
INCO juga membukukan volume penjualan yang kuat sepanjang Januari-September 2023 dan kuartal III-2023, dengan kenaikan 13,7% (yoy) dan 4,6% (qoq). Biaya tunai juga lebih rendah 8,8% (yoy) dan 5,7% (qoq), yang mampu mengimbangi dampak penurunan ASP.
Potensi Cuan Saham INCO
Meskipun harga nikel LME telah turun menjadi US$ 17 ribu per ton pada Oktober 2023, harga rata-rata secara year to date (ytd) masih mencapai US$ 22.471 per ton. Ini seharusnya tetap sejalan dengan proyeksi harga tahun ini yang sebesar US$ 21 ribu per ton.
BRI Danareksa Sekuritas juga melihat bahwa INCO dapat mencapai target produksi tahun ini sebanyak 70 ribu ton, karena volume produksi hingga September mencapai 73,8% dari perkiraan. Sedangkan manajemen INCO menyebutkan bahwa pihaknya mulai memproses bijih dengan kadar lebih tinggi sejak September 2023.
“Karena itu, kami mempertahankan perkiraan earnings INCO pada 2023 dan 2024, yang didasari proyeksi harga nikel LME/ASP sebesar US$ 22 ribu/US$ 17.160 per ton dan US$ 20 ribu/US$ 15.600 per ton,” jelas Hasan.
Mengenai prospek saham INCO, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating beli. Adapun target harga saham INCO berbasis DCF dipatok Rp 7.000. Pada perdagangan Senin (30/10/2023), saham INCO bertengger di level Rp 5.225. Dengan demikian, potensi cuan saham INCO masih tebal mencapai 34%.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






