Minyak Kembali Rontok, Tertekan Kemungkinan Peningkatan Produksi Angola
NEW YORK, investor.id - Harga minyak kembali rontok pada Jumat (22/12/2023). Tertekan ekspektasi Angola kemungkinan meningkatkan produksi setelah meninggalkan OPEC.
Meski demikian, harga minyak mencatatkan kenaikan secara mingguan karena berita ekonomi Amerika Serikat (AS) yang positif dan kekhawatiran serangan kapal Houthi akan meningkatkan biaya pasokan.
Dikutip dari Reuters, Brent berjangka turun 32 sen (0,4%) menjadi US$ 79,07 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 33 sen (0,5%) menjadi US$ 73,56. Hal ini membuat kedua benchmark naik sekitar 3% untuk pekan ini setelah naik kurang dari 1% pada minggu lalu.
Di Timur Tengah, lebih banyak kapal induk mengatakan mereka menghindari Laut Merah karena serangan terhadap kapal yang dilakukan oleh kelompok militan Houthi yang didukung Iran, yang dikatakan sebagai respons terhadap perang Israel di Gaza.
Perusahaan pengirim barang besar, Maersk dan CMA CGM, mengatakan mereka akan mengenakan biaya tambahan terkait dengan pengalihan rute kapal. Serangan tersebut telah menyebabkan gangguan di Terusan Suez, yang menangani sekitar 12% perdagangan dunia.
“Penghentian pasokan secara langsung bukan satu-satunya alasan. Harga minyak akan tergerak oleh situasi Laut Merah, yaitu tarif pengangkutan dan biaya asuransi meningkat,” kata analis PVM John Evans tentang dampak gangguan tersebut.
Sementara itu di Afrika, keputusan Angola untuk keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dapat membuka jalan bagi Beijing untuk meningkatkan investasi di sektor minyak dan sektor lainnya di negara tersebut. Angola memproduksi sekitar 1,1 juta barel minyak per hari.
“Produksi minyak Angola akan membutuhkan waktu untuk meningkat bahkan jika China melakukan tindakan besar-besaran,” kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group, seraya mencatat bahwa data inflasi AS dan serangan Houthi di Laut Merah seharusnya mendukung kenaikan harga minyak dibandingkan meningkatnya produksi Angola di masa depan.
Sementara itu di Irak, juru bicara Kementerian Perminyakan Asim Jihad menegaskan dukungan Irak terhadap perjanjian OPEC+ dan komitmennya terhadap pengurangan minyak secara sukarela.
Di AS, angka inflasi utama lebih rendah dari perkiraan, meningkatkan optimisme investor bahwa The Fed akan menurunkan biaya pinjaman tahun depan. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya pinjaman konsumen, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.
Ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga tahun depan juga membantu menurunkan dolar AS ke level terendah sejak Juli terhadap sejumlah mata uang lainnya untuk hari kedua berturut-turut.
Melemahnya dolar dapat meningkatkan permintaan minyak dengan membuat bahan bakar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Namun semua berita ekonomi AS tidak positif. Penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS turun ke level terendah dalam satu tahun pada November. Namun, penurunan yang tidak terduga ini kemungkinan hanya bersifat sementara di tengah kekurangan kronis rumah yang dimiliki sebelumnya, yang telah mendukung permintaan akan konstruksi baru.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






