Jumat, 15 Mei 2026

Penurunan Rupiah Akibat Sentimen Risk-Off dari AS dan China

Penulis : Grace El Dora
25 Mar 2024 | 11:53 WIB
BAGIKAN
Petugas menghitung uang rupiah yang ditukarkan warga pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Pramuka, Jakarta pada Senin (18/3/2024). (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU)
Petugas menghitung uang rupiah yang ditukarkan warga pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Pramuka, Jakarta pada Senin (18/3/2024). (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU)

JAKARTA, investor.id – Penurunan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal pekan diakibatkan oleh sentimen pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off) dari AS dan China. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan hal ini dalam catatan Senin (25/3).

Rupiah terlihat melemah tujuh poin atau 0,04% dan bertengger di level Rp 15.790 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya di level Rp 15.783 per dolar AS.

"Indikator manufaktur AS yang kuat dan pasar tenaga kerja yang lebih ketat menurunkan kemungkinan penurunan suku bunga lebih awal, meningkatkan sentimen risk-off di pasar," ujar Josua seperti dikutip Antara, Senin.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Bank Rakyat China atau People's Bank of China (PBoC) menurunkan referensi harian yuan terbesar sejak Februari 2024. ini menyiratkan pemerintah Negara Tirai Bambu membiarkan yuan terdepresiasi untuk mendukung perekonomian.

“Dolar AS menguat terhadap mata uang global, terutama karena sinyal dovish (pro pasar) dari berbagai bank sentral global, diikuti oleh indikator ekonomi AS yang solid,” sambungnya.

Indeks dolar AS menguat didorong oleh pernyataan dovish dari bank sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Eropa (ECB).

Gubernur BoE Andrew Bailey menyampaikan penurunan suku bunga kebijakan akan menjadi topik utama dalam pertemuan BoE mendatang, menegaskan sinyal suku bunga kebijakan BoE telah mencapai puncaknya.

Salah satu anggota ECB Joachim Nagel memperkirakan ECB akan mulai memangkas suku bunga bahkan sebelum liburan musim panas, menyiratkan penurunan suku bunga lebih awal pada 2024.

Apresiasi dolar AS juga dipengaruhi oleh pernyataan salah satu pejabat The Fed, Raphael Bostic. Ia menyatakan The Federal Reserve (The Fed) hanya bisa memangkas Fed Funds Rate (FFR) satu kali pada 2024 karena kekhawatiran melambatnya kemajuan disinflasi

“Sentimen tersebut mengimbangi dampak pengumuman pertemuan FOMC yang menandakan penurunan suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini,” kata Josua.

Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 15.750 hingga Rp 15.850 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 17 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 21 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia