Jumat, 15 Mei 2026

Timur Tengah Memanas, Imbal Hasil SUN Terkerek

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
15 Apr 2024 | 21:14 WIB
BAGIKAN
Pegawai Treasury Room OCBC NISP, memantau pergerakan imbal hasil surat utang negara (SUN) di Jakarta. (Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza)
Pegawai Treasury Room OCBC NISP, memantau pergerakan imbal hasil surat utang negara (SUN) di Jakarta. (Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah mengerek imbal hasil Surat Utang Negara alias SUN, yang meningkat hingga nyaris menyentuh level 7.00% atau pada rentang 6,8-6,9% untuk obligasi dengan tenor 10 tahun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, proyeksi imbal hasil dipastikan meningkat setelah investor menarik diri dari instrumen investasi Indonesia atas meningkatnya ketidakpastian global. Dengan demikian, investor cenderung wait and see dan meminta imbal hasil yang tinggi.

Selain itu, nilai tukar rupiah diperkirakan melemah setelah libur panjang lebaran. “Hal ini juga tercermin dari rupiah yang diperkirakan meningkat hingga Rp 16.000 rupiah per dolar,” jelasnya kepada Investor Daily, Senin (15/4/24).

ADVERTISEMENT

Ramdhan melanjutkan, pergerakan imbal hasil pekan ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global tersebut, karena tengah menjadi sorotan. Dari dalam negeri sendiri, pelaku pasar sedang menanti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas gugatan yang dilakukan oleh pasangan calon presiden bernomor urut 1 yakni Anies-Muhaimin dan pasangan calon presiden nomor urut 3 yakni Ganjar-Mahfud terhadap capres nomor urut 2 yakni Prabowo-Gibran.

“Sedangkan dari sisi pasar, sebenarnya relatif stabil,” ujar dia.

Tingginya ketidakpastian turut memengaruhi lelang obligasi pemerintah yaitu lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang akan dilakukan Selasa (16/4/24), dimana pemerintah menerbitkan 7 seri dengan target indikatif mencapai Rp 11 triliun.

Menurut Ramdhan, imbal hasil yang diminta investor diperkirakan cukup tinggi, namun demikian penawaran yang masuk diramal mencapai Rp 20 triliun atau lebih tinggi dari target indikatif. “Setidaknya sebanyak Rp 15-20 triliun penawaran akan masuk,” kata dia.

Ramdhan menambahkan, seri jangka menengah yakni 4-5 tahun diperkirakan menjadi seri yang paling laku dalam lelang kali ini, karena lebih liquid dan juga risikonya yang lebih rendah ketimbang jangka panjang. “karena durasinya menengah,” pungkasnya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 19 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia