Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Melorot, Imbas Kekhawatiran Suku Bunga AS yang Masih Tinggi

Penulis : Grace El Dora
27 Mei 2024 | 17:14 WIB
BAGIKAN
Petugas memperlihatkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Dollarasia Money Changer, Jakarta pada Kamis (25/4/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/nym)
Petugas memperlihatkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Dollarasia Money Changer, Jakarta pada Kamis (25/4/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/nym)

JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah melorot turun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (27/5/2024). Ini merupakan imbas kekhawatiran suku bunga Fed Funds Rate (FFR) yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, seperti disampaikan analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri.

Nilai tukar (kurs) rupiah hari ini melemah 77 poin atau 0,48% dan bertengger di level Rp 16.072 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya di level Rp 15.995 per dolar AS.

"Pelaku pasar masih mengkhawatirkan (The Federal Reserve) The Fed yang masih akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama, menyusul risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang tetap bernada hawkish dan PMI Global S&P flash AS yang menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat," jelas Reny dalam catatan Senin.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, pergerakan valuta asiang (valas) masih akan dipengaruhi oleh sentimen dari AS. Saat ini investor mencermati data-data ekonomi AS yang baru dirilis, yang menunjukkan meningkatnya data durable goods order.

Pesanan baru AS untuk barang-barang tahan lama yang diproduksi naik sebesar 0,7% dari bulan ke bulan (MoM) pada April 2024, lebih rendah dari sebesar 0,8% pada Maret 2024.

Risalah FOMC terbaru juga menunjukkan keprihatinan regulator karena inflasi yang sulit turun. Beberapa anggota bank sentral juga mengindikasikan kesediaan untuk memperketat kebijakan lebih lanjut, jika inflasi melonjak.

Konsensus pasar saat ini hanya melihat potensi penurunan suku bunga acuan hanya satu kali pada 2024 dan kemungkinan baru akan terjadi menjelang akhir tahun.

Pekan ini, investor akan memantau rilis Indeks Harga Indeks Harga Belanja Personal (PCE) AS dan pidato oleh beberapa pejabat The Fed.

"Sementara itu, dari domestik minim rilis data sehingga sentimen pasar cenderung akan melihat perkembangan eksternal," imbuh Reny.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp 16.064, dibandingkan sebelumnya di level Rp 15.995 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 6 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 44 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 48 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia