Jumat, 15 Mei 2026

Vale (INCO) Meleset Jauh, Target Harga Sahamnya Baru

Penulis : Eva Fitriani
10 Jul 2024 | 18:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kegiatan usaha PT Vale Indonesia Tbk (INCO). (Foto: Marcelo Coelho/INCO)
Ilustrasi kegiatan usaha PT Vale Indonesia Tbk (INCO). (Foto: Marcelo Coelho/INCO)

JAKARTA, investor.id – Kalangan analis menurunkan proyeksi kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada tahun ini. Hal itu karena hasil yang kurang menggembirakan pada kuartal I-2024, perkiraan penurunan harga nikel, dan antisipasi aktivitas pemeliharaan yang akan mengganggu produksi.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus dalam risetnya menurunkan estimasi pendapatan Vale Indonesia pada 2024 dan 2025, setelah realisasi pada kuartal I-2024 yang lebih rendah dari perkiraan. Pihaknya juga memangkas perkiraan laba bersih Vale Indonesia pada 2024 dan 2025 sebesar 31,3% dan 21,9% dengan memperhitungkan penurunan kadar bijih, produksi, dan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi.

Pada kuartal I-2024, laba bersih emiten berkode saham INCO tersebut sebesar US$ 6,19 juta, meleset jauh dari perkiraan BRI Danareksa Sekuritas. Laba bersih INCO anjlok 93,7% yoy atau terpangkas 88,4% qoq akibat penurunan harga jual dan kenaikan biaya tunai.

ADVERTISEMENT

“Meskipun kami memperkirakan pendapatan INCO pada kuartal II-2024 akan meningkat karena harga nikel di London Metal Exchange (LME) lebih tinggi 11% qoq, kami tetap menurunkan perkiraan pendapatan dan laba bersih untuk tahun 2024 dan 2025 hingga US$ 969 juta dan US$ 94 juta (-1,5% dan -31,3% dibandingkan perkiraan sebelumnya), serta masing-masing US$ 954 juta dan US$ 92 juta,” tulis Timothy dan Christian.

Revisi turun itu terutama mencerminkan perkiraan COGS yang lebih tinggi menjadi US$ 854 juta atau meningkat 5,3% dibandingkan sebelumnya. Hal itu didorong oleh tingginya konsumsi bahan bakar dan kadar bijih yang lebih rendah pada semester I-2024.

“Selain itu, kami mengantisipasi aktivitas pemeliharaan pada kuartal II-2024, yang dapat mengurangi volume penjualan INCO menjadi 16,5 ribu ton (-9% qoq) dan meningkatkan biaya tunai per unit,” jelas Timothy dan Christian.

Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas juga melihat masih ada peluang peningkatan pendapatan dari kenaikan cadangan bijih nikel secara signifikan menjadi 840 juta wmt dibandingkan 334 juta wmt pada kuartal I-2024.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia