Ada Euforia The Fed, Fokus ke Saham Ini Saja
JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada awal pekan, seiring euforia terkait suku bunga The Fed. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) tersebut berpeluang besar memangkas Fed Funds Rate (FFR) pada September 2024.
CME FedWatch Tools mencatat, peluang pemangkasan FFR pada September tahun ini mencapai 90,3%. Alhasil, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) pada Jumat (12/7/2024) ditutup menembus level 40.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Penguatan juga dicatatkan oleh indeks-indeks utama Wall Street lainnya.
Hal ini turut memicu ekspektasi pemangkasan lanjutan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang direspons positif oleh indeks-indeks saham di Eropa. DAX (Jerman) dan CAC40 (Prancis) melonjak lebih dari 1% pada Jumat (12/7).
Dari kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat menjadi 5% yoy pada kuartal II-2024 dari 5,3% pada kuartal I-2024. “Meski melambat, kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi China tahun ini pada kisaran 5%,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (14/7/2024).
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan dua data penting, yaitu neraca perdagangan dan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang masing-masing akan dirilis pada Senin (15/7) dan Rabu (17/7).
Konsensus analis memperkirakan surplus neraca perdagangan RI naik menjadi US$ 2,98 miliar pada Juni 2024 dari US$ 2,93 miliar pada Mei 2024. Selanjutnya, RDG BI diyakini akan menahan suku bunga acuan sebesar 6,25%. Pasar juga menantikan pandangan BI terkait peluang pemangkasan suku bunga tahun ini, seiring perkembangan terkini kondisi eksternal.
Rekomendasi Saham
Dengan berbagai faktor yang ada, Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG menguat pada Senin (15/7). Level tertinggi (resistance) IHSG diperkirakan di 7.400, pivot di 7.350, dan level terendah (support) di 7.300.
“Saham-saham yang dapat diperhatikan meliputi saham bank, ICBP, MAPI, MYOR, INTP, dan ADMR,” sebut perusahaan efek tersebut.
Sementara itu, DBS meyakini bahwa era bunga tinggi dalam jangka waktu lama (higher for longer) akan berganti menjadi rezim bunga rendah. Bank investasi ini memprediksi The Fed menurunkan suku bunga acuan (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) setiap kuartal mulai kuartal IV-2024.
Dengan demikian, akhir tahun ini, FFR akan bertengger di level 5,25% dan turun lagi menjadi 4,25% pada akhir 2025. Ini akan membuat rupiah menguat hingga kembali di bawah Rp 16 ribu per dolar AS. Itu akan berdampak positif bagi pasar saham, dalam hal ini IHSG.
Sebab itu, DBS menaikkan rekomendasi pasar saham Indonesia dari netral menjadi positif, yang ditopang oleh proyeksi penguatan rupiah pada paruh kedua 2024. DBS mematok target IHSG akhir 2024 di level 7.750, turun dari sebelumnya 7.990. Ini lantaran revisi proyeksi penurunan suku bunga acuan dan pertumbuhan laba bersih serta fenomena de-rating di semua pasar saham negara berkembang.
Ada enam saham yang dijagokan broker asing top ini yang diyakini bakal memberikan return menarik. Enam saham tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).
Rekomendasi untuk saham BMRI, JPFA, ASII, TLKM, BBCA, dan HEAL tersebut adalah buy. Target harga masing-masing sebesar Rp 8.300, Rp 1.400, Rp 6.000, Rp 4.650, Rp 10.875, dan Rp 1.585.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






