Minggu, 21 Juni 2026

Saham Emiten Grup Bakrie & Salim Lagi Panas, Gara-gara Apa?

Penulis : Thresa Sandra Desfika
20 Sep 2024 | 08:18 WIB
BAGIKAN
Presiden Direktur Bumi Resources (BUMI), Adika Nuraga Bakrie. Bumi Resources merupakan emiten Grup Bakrie dan Salim. Ist
Presiden Direktur Bumi Resources (BUMI), Adika Nuraga Bakrie. Bumi Resources merupakan emiten Grup Bakrie dan Salim. Ist

Di sisi lain, emiten Grup Bakrie dan Salim, Bumi Resources (BUMI) sempat mengumumkan kepemilikan atas cadangan batu bara yang melimpah, mencapai 2,4 miliar ton. Cadangan tersebut tersebar di wilayah operasi anak usahanya, di antaranya PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang menyumbang sebanyak 721 juta ton, dan PT Arutmin Indonesia dengan 327 juta ton.

Selain itu, BUMI juga memiliki aset di Pendopo, Sumatra Selatan, dengan cadangan sekitar 1,3 miliar ton batu bara. Dengan jumlah tersebut, Bumi Resources optimistis dapat terus memproduksi batu bara hingga 30 tahun ke depan dengan target produksi tahunan sebesar 80 juta ton.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava, menyatakan potensi sumber daya batu bara BUMI saat ini mencapai 6,81 miliar ton.

ADVERTISEMENT

"Kami akan memaksimalkan cadangan ini untuk mendukung pendapatan dan laba bersih jangka panjang," jelas dia dalam keterangan tertulis, sebagaimana telah diberitakan investor.id pada 6 September 2024.

Emiten Grup Bakrie dan Salim, Bumi Resources (BUMI) juga berkomitmen untuk memenuhi kewajiban pasokan domestik atau domestic market obligation (DMO) yang ditetapkan pemerintah, dengan kontribusi DMO mencapai 25% dari produksi nasional.

Di sisi lain, meskipun produksi batu bara meningkat sebesar 7% pada semester I-2024 menjadi 37,7 juta ton, pendapatan BUMI justru turun 13% secara tahunan (year on year) menjadi USD 2,89 miliar. Penurunan pendapatan ini akibat tekanan harga batu bara global. Namun, laba sebelum pajak tercatat sebesar US$141 juta, dengan pendapatan konsolidasi dari KPC dan Arutmin mencapai US$ 2,89 miliar.

BUMI terus berupaya mengoptimalkan efisiensi operasional dengan mengadopsi teknologi digital dan strategi pengurangan biaya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan laba bersih perusahaan di masa mendatang, meski tantangan harga global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 11 menit yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 6 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia