Jumat, 15 Mei 2026

Sinyal Waspada Menyala, Begini Taktik Raih Cuan Optimal dari Saham

Penulis : Jauhari Mahardhika
15 Des 2024 | 15:16 WIB
BAGIKAN
Pekerja berada di gedung BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pekerja berada di gedung BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Pelaku pasar tampak menantikan keputusan The Fed soal suku bunga acuan dalam rapat FOMC pada 18 Desember 2024 sebagai katalis atau validasi untuk melakukan window dressing di pekan terakhir 2024. Lantas, bagaimana perkiraan arah indeks harga saham gabungan (IHSG)?

Sementara itu, reli indeks-indeks Wall Street terhenti pada Jumat (13/12/2024). Indeks blue chip AS, DJIA tergerus 1,8%. Pelemahan itu terindikasi disebabkan oleh kecenderungan ‘cash is king’, seiring penguatan indeks dolar AS. Penguatan dolar AS sendiri dipicu oleh keputusan Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Swiss yang memangkas suku bunga acuan.

“Pasar tengah menunggu keputusan The Fed dalam rapat FOMC. Sebelum FOMC, ada potensi rotasi obligasi, menyusul kenaikan yield atau imbal hasil US 10-year bond ke atas 4,4%,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (15/12/2024).

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut berpotensi kembali menekan IHSG, terutama pada awal pekan. Pemodal diimbau waspada. Apalagi, potensi capital outflow juga diperkirakan cukup kuat pada awal pekan. Level terendah (support) IHSG pada perdagangan Senin (16/12) diperkirakan di 7.280. Sedangkan level tertinggi (resistance) IHSG diprediksi di 7.430, dengan pivot 7.350.

“Namun, sentimen bisa berbalik setelah pengumuman hasil rapat FOMC,” jelas Phintraco Sekuritas.

Adapun nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 16.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Data kinerja ekspor impor diyakini tidak akan berpengaruh signifikan, mengingat pertumbuhan nilai ekspor pada November 2024 diprediksi melambat dibandingkan Oktober 2024.

Pergerakan IHSG pada awal pekan juga bakal dipengaruhi oleh respons pasar terhadap data ekonomi China, di antaranya harga properti dan investasi aset tetap. Begitu juga dengan data produksi industri, penjualan ritel, dan tingkat pengangguran.

“Investasi diprediksi melanjutkan pemulihan mengantisipasi potensi peningkatan demand, yang disokong oleh rencana stimulus pada 2025. Saham pilihan teratas adalah MIDI, MYOR , ICBP, DOID, ARTO, dan ADRO,” sebut Phintraco Sekuritas.

Taktik Optimalkan Cuan dari Saham ISAT hingga ICBP 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia