Jumat, 15 Mei 2026

BBNI Dapat Katalis, Gain Besar di Depan Mata

Penulis : Harso Kurniawan
3 Feb 2025 | 14:45 WIB
BAGIKAN
Pialang memantau pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pialang memantau pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Likuiditas masih menjadi fokus pelaku pasar terhadap perbankan di Indonesia. Hingga semester I-2025, likuiditas perbankan diperkirakan masih ketat, karena musim pembayaran dividen dan momentum Ramadan-Idulfitri.

Namun, pada semester II-2025, kondisi likuiditas diperkirakan bisa membaik, sehingga menjadi katalis saham BNI (BBNI). Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) ditambah dengan kebijakan baru pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengenai devisa hasil ekspor (DHE) akan mendongkrak likuiditas perbankan Tanah Air.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2025, BI secara mengejutkan menurunkan BI Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75%. Kemudian, pemerintah juga merevisi aturan mengenai DHE. Per 1 Maret 2025, DHE wajib disimpan 100% di dalam negeri dengan jangka waktu setahun dari sedikitnya 30% selama 3 bulan.

ADVERTISEMENT

“Dalam pandangan kami, penurunan BI Rate yang mengejutkan, tren penurunan kurva imbal hasil SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) baru-baru ini, dan revisi peraturan repatriasi DHE SDA akan membantu meringankan beberapa tantangan likuiditas dan tekanan biaya dana (cost of fund),” tulis CGS International dalam risetnya. 

Dalam lelang SRBI 24 Januari 2025, rata-rata bunga yang diberikan untuk tenor tiga bulan, sembulan bulan, dan 12 bulan masing-masing 6,72%, 6,75%, dan 6,84%, turun dibandingkan 17 Januari 2025 masing-masing 6,85%, 6,91%, dan 6,98%.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI diperkirakan menjadi salah satu yang merasakan dampak positif dari perbaikan kondisi likuiditas tersebut. BNI memperkirakan penyaluran kredit tumbuh 8-10% tahun ini ditopang kondisi likuiditas yang membaik, lanjut riset CGS.

Target Harga dan Rekomendasi 

Inisiatif strategis utama BBNI tahun ini melalui transformasi digital dan cabang, merupakan upaya yang dilakukan perseroan dalam memperkuat CASA franchise dan meningkatkan pendanaan berbiaya rendah.

"Aplikasi mobile banking wondr, membantu meningkatkan transaksi nasabah ritel BBNI. Berkat aplikasi baru, pengguna aktif meningkat dari 30% pada aplikasi lama menjadi 65% saat ini. Wondr memiliki 5.3 juta pengguna per Desember 2024, dengan penambahan hampir 1 juta pengguna per bulan,” tulis riset CGS.

Namun demikian, CGS menilai kemajuan transformasi pendanaan BBNI belum diakui oleh pasar, karena investor masih berfokus pada kualitas kredit dan penjaminan sejak manajemen baru.

Pada perdagangan Jumat (31/1/2025), harga saham BBNI ditutup di Rp 4.770. Melonjak 2,8% dari hari sebelumnya. Kenaikan 2,8% juga menjadi yang tertinggi di antara saham bank-bank milik negara.

Saham PT Bank Mandiri (Tbk (BMRI) melemah 1,2%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bertambah 2,4%, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terangkat 2,5%, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik 1,7%.

CGS pun mempertahankan rating buy saham BBNI dengan target harga di Rp 6.000. Artinya, ada peluang keuntungan hingga 25,79% dari posisi saat ini.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia